Geger di Wrahas Kartika (2 – Tamat)

“Kecil…kecil…kecil… hoopp.” Tiga mata dhadhu pun bergulir melemah… bergoyang-goyang… tidak juga berhenti, namun bergoyang-goyang dengan tiga mata dhadhu masing-masing tertera angka tiga di sisi paling atas. Tepat sembilan jumlah seluruh angka dari tiga dhadhu, bila berhenti pada saat itu. Akan tetapi, dhadhu belum juga berhenti, masih bergoyang-goyang. Seperti sebelumnya, Mandrakanta dan Barisan Awan berdiri di sisi meja dhadhu etoh. Kini mereka tidak sekedar berdiri melainkan memegang meja itu mengalirkan tenaga mempengaruhi dhadhu yang kini bergoyang-goyang.

“Hooopla… plok… plok… plok… platak… platak…” Tiba-tiba tangan Mandrakanta melepaskan meja dan bertepuk tangan tiga kali. Dua dhadhu melesat cepat keudara dan seperti dua tangan anak muda itu bertemu saat bertepuk tangan, demikian dua dhadhu yang melesat bertabrakan kemudian jatuh terbelah di atas meja dengan kedudukan bagian yang terbelah menghadap ke atas… empat kepingan dhadhu yang terbelah, menghadap ke atas tanpa ada angka.

“Aku menang… aku menang… lihat dhadhu di meja adalah angka kecil… hanya enam.” Di atas meja memang terlihat angka enam.. angka enam dari satu dhadhu yang masih utuh… dhadhu yang sebelumnya dilempar oleh Mandrakanta. Jelas, Barisan Awan termakan siasat Mandrakanta. Saat dhadhu hanya bergoyang-goyang untuk berhenti pada angka tiga, Mandrakanta saat itu mengerahkan tenaga untuk menahan agar dhadhu berhenti sementara Barisan Awan berupaya mendorong agar dhadhu tidak berhenti… Mandrakanta menahan, Barisan Awan mendorong… akibatnya dhadhu bergoyang-goyang… tertahan sekaligus terdorong. Namun, tiba-tiba anak muda itu melepaskan tenaga penahan sekaligus menarik mencelatkan dua dhadhu… jelas dua dhadhu itu begitu mudah mencelat. Mencelat akibat tarikan anak muda sekaligus dorongan tenaga Barisan Awan… setelah mencelat sekejab saja dua dhadhu membenturkan satu sama lain bersamaan dengan tepuk tangan yang dilakukan anak muda…tiga kali… sehingga dua dhadhu itu terbelah dan jatuh di atas meja berupa empat kepingan dengan sisi terbelah menghadap ke atas. Tanpa tertera angka pada masing-masing kepingan.

“Bedebah… kau curang.” Seorang dari Barisan Awan menyerang… gerakannya sangat cepat tidak dapat diikuti mata… dengan sasaran berjarak sangat dekat.

“Paman Prabangkara, aku menang…” Anak muda itu membalikkan tubuh ke arah Bre Prabangkara , sekaligus mendekatkan dirinya ke arah penyerang… begitu dekat hingga menempel…sehingga serangan itu luput karena sasaran telah bergerak tidak kalah cepat menempel kepada yang menyerang. Tiba-tiba anak muda itu berlari kencang keluar.
“Haaa…. Haaa… Haaa… akhirnya malam ini aku menang… aku menang… aku menang…” Di luar Mandrakanta berhenti dua tumbak dari pintu utama Wrahas Kartika… menari-nari dan berteriak-teriak… benar-benar bajug, tengah malam buta menari dan berteriak.
“Kurang ajar, engkau mempermainkan kami.” Serentak tiga orang dari Barisan Awan menyergap… tubuh mereka seketika berselimut kabut… terdengar serangan menderu ke arah anak muda yang masih menari-nari… tidak hirau bahaya mengintai datang.
“Awas serang….” Peringatan sia-sia, karena sebuah pukulan telak telah menghantam tubuh bagian belakang anak muda.
“BUKKK… BRAKKK” Anak muda itu terpental dua tumbak menabrak sebuah wandé (toko atau warung) berdinding kayu di depan Wrahas Kartika dan menghilang di antara reruntuhan… empat bayangan berkelebat dari dalam Wrahas Kartika.
Dua ke arah wandé yang terhantam tubuh anak muda… Dua bayangan yang mencelat menuju wandé, tidak lain Senopati Ramaniya dan Bre Prabangkara. Mereka langsung menerobos lubang dinding wandé yang menganga lebar tertembus oleh tubuh Mandrakanta. Wajah mereka dibayangi oleh ketakutan dan kengerian yang mendalam. Ngeri atas apa yang baru saja dilihat. Pukulan telak Barisan Awan yang telah melontarkan deras Mandrakanta.
Sementara itu, dua bayangan yang juga berkelebat bersamaan terlihat mencegat Tiga lelaki Barisan Awan. Dua gadis buruk rupa berdiri raut muka dan lagak tubuh tidak senang. Tidak senang atas apa yang dilakukan Barisan Awan terhadap anak muda lawan mereka bermaian dhadhu etoh.
“Tidak tahu malu, kalah ya kalah… sudah kalah malah main keroyok… tidak tahu diri.” Seorang dari Gadis Gila Kembar menegor keras Barisan Awan.
“Lagi-lagi bocah edan… minggir kau berdua.” Peringatan datang dari seorang Barisan Awan. Orang yang telah memukul telak Mandrakanta. Di antara tiga orang itu masih terlihat kabut putih sekalipun sudah agak surut dibandingkan sebelumnya.
“Lebih baik edan dibanding kalian… sudah tua tetapi bodoh… bodoh tidak bisa bedakan mana yang asyik untuk ditepati… mana yang memang harus diingkari… bukankah menelan utahan karena kalah main dhadhu etoh itu asyik untuk ditepati… dasar bodoh…” Tiga wajah Barisan Awam memerah seketika. Memerah murka. Murka dikatakan bodoh. Lebih murka lagi manakala ejekan bodoh itu datang dari gadis edan.
“SUITTT… SUITTT…”
Dua serangan pukulan dilepaskan oleh Barisan Awan mengarah ke dua gadis edan. Tergesa-gesa, dua gadis edan itu menangkis. Tapi, mana kuasa dua gadis itu menahan pukulan seorang dari Barisan Awan. Dua tubuh molek milik gadis buruk rupa meluncur… melayang ke arah wandé di mana sebelumnya tubuh Mandrakanta telah tertelan di balik reruntuhan. Wajah dua gadis terlihat semakian buruk saat pengaruh pukulan yang telah ditangkis mereka, tidak mampu diredam sehingga menyusup ke dalam titik-titik simpul syaraf penting untuk mengkoordinasi gerakan anggota tubuh…dua wajah buruk rupa menegang berupaya mengendalikan pengaruh pukulan Barisan Awan yang masuk menyusup.
Dua tubuh gadis itu terus melayang, namun beberapa saat lagi akan membentur dinding wandé, ada sosok lain yang melayang dari dalam wandé dan sosok itu segera menangkap dua gadis bersamaan. Di kiri dan di kanan. Merangkul perut masing-masing gadis yang segera telah mengembalikan wajah gadis itu seperti semula… tetap buruk tapi tidak terlihat tegang.
“Haaa… Haaa… Haaa… sudah menang, kini dapat dua bidadari… Cup.. Cup.. HOAAKK… HOAAKK… Tidak salah, sosok itu adalah Mandrakanta. Anak muda itu menangkap dua gadis yang akan terbentur wandé, menangkap gadis itu pada perut masing-masing… lalu cepat mengecup bibir dua gadis… langsung muntah manakala tahu rupa gadis yang diciumnya… begitu buruk.
“HOAAKK…PUIH…PUIH…” Anak muda itu membungkuk-bungku dan meludah-ludah saat mendarat ringan satu tumbah di depan Barisan Awan. Ia meludah-ludah sambil mengusap-usap bibirnya seakan-akan membersihkan kotoran yang melekat di sana. Terlihat jelas bekas putih, jejak sebuah kepalan tangan, pada punggung anak muda… punggung kiri yang tidak tertutup selempangan kain penutup tubuh bagian atas. Di seputar kepalan putih pun masih tersisa tebaran yang samar-samar masih menyisakan berkas-berkas putih.. pengaruh pukulan Barisan Awan pada punggung anak muda.
“Mati aku. Bukan bidadari… tapi hiiiiiii… hiiiiiii… hiiiiiii…” Kepala anak muda itu bergoyang… tiga kali bergoyang seperti biasa dilakukan oleh orang yang jijik pada sesuatu. Bersamaan dengan goyangan tubuhnya, segera bercak-bercak putih menghilang, sementara jejak kepalan tangan menjadi samar… terus samar dan akhirnya sirna. Hanya beberapa orang yang memperhatikan itu, khususnya Senopati Ramaniya dan Bre Prabangkara.. yang saat itu tepat berdiri tidak jauh di belakang anak muda yang berdiri di antara dua gadis gila.
Seluruh tingkah Mandrakanta menjadi perhatian orang-orang di sana. Tingkah bajug… lepas dari tata krama… ugal-ugalan. Bajug atau ugal-ugalan? Tidak demikian di mata dua gadis buruk rupa dan Barisan Awan. Mereka semua terkesiap. Gadis gila merasakan saat anak muda itu meraih perut masing-masing, seketika tekanan pengaruh pukulan Barisan Awan menjadi sirna…tidak lagi ada tekanan dingin menggigit yang meresap dan segera akan menyerang jantung dan menghentikan organ itu dalam kebekuan. Mereka sadar pelukan perut telah meluputkan dari kematian. Tidak jauh berbeda dengan Barisan Awan, dalam keadaan terkesiap, tidak disadari dua mata mereka melotot lebar. Pukulan yang begitu telak mendarat di punggung seharusnya menewaskan anak muda itu seketika. Pukulan itu adalah pukulan Kawanda Urumi (Gelombang Awan), satu bagian dari tiga gelar Yamani Kawanda (Awan Neraka), jurus Barisan Awan yang sangat ditakuti di rimba hijau.
“Siapa anak muda itu?” Benak Barisan Awan penuh tanda tanya. Begitu juga dengan dua gadis gila, yang tidak hanya bertanya-tanya tetapi juga tertunduk malu… malu atas apa yang telah dilakukan oleh anak bajug itu… mengecup bibir mereka di depan orang-orang banyak… gadis gila pun telah dibuat malu oleh ulah anak bajug… betul-betul bajug, bahkan bajug bagi orang yang disebut sebagai gila… Dhampit Baring Kanya…Gadis Gila Kembar.
“Mana Santika… mana Laksita… aku ingin mengatakan pada dua bidadari itu, malam ini aku telah menang dhadhu etoh.” Anak muda itu celingukan mencari dua gadis biyada yang semula menemaninya bermain dadu. Apa yang dilakukan Mandrakanta membuat delapan blondhot sumringah. Delapan blondhot saling pandang satu sama lain, perlahan melangkah surut menjauh dari Pangeran Layang Taksaka. Berkumpul dan berbicara berbisik-bisik.
“Dia orangnya… Bajug Anggakara… Pahlawan tanpa aturan… raja urakan.” Salah seorang dari delapan blondhot menyebut gelar bagi anak muda. Anak muda yang sejak semula menarik perhatian mereka, khususnya empat blondhot yang lebih dahulu menampakkan diri di Wrahas Kartika.

Tidak seperti delapan blondhot, Barisan Awan terlihat semakin murka. Lima orang itu merasa dipermainkan… dipermainkan habis-habisan oleh anak muda… anak muda bajug. Lima Barisan Awan kini berdiri berbaris merapan satu sama lain.

“Siapakah kau anak muda… jangan terus bermain-main… tunjukan darimana engkau menyadap kekuatanmu.” Seorang Barisan Awan mencoba mencari tahu asal usul anak muda itu. Anak muda aneh yang telah melakukan permainan ugal-ugalan.

“Aku? Tentu aku adalah Etoh Katong (Raja Judi)… etoh katong yang telah mengalahkan paman sekalian dalam dhadhu etoh…” Berlagak jumawa Mandrakanta mengatakan dirinya sebagai raja judi. Satu tangan bertolak pinggan, satu lainnya menepuk-nepuk dada.

“Bedebah…” Dua orang dari Barisan Awan bergerak, mendahului mereka tebaran kabut putih kembali menyelimuti… tebaran kabut yang kian menebal seiring dengan pergerakan yang dilakukan dua orang Barisan Awan. Arah gerakan mereka langsung tertuju pada anak muda yang berdiri di antara gadis gila. Tentu hanya, dalam hitungan kejaban mata saja, serangan dua orang Barisan Awan akan tiba pada sasarannya.

“Ayo kalian saja yang menemani aku bermain… agaknya Santika dan Laksita sudah tidak menyukai permaian ini.” Anak muda itu kembali meraih perut langsing milik dua gadis gila di sampingnya… sementara kaki kirinya di angkat lurus ke depan dan membuat beberapa putaran, yang langsung membentur serangan dua orang Barisan yang sudah tiba pada sasarannya. Sementara berada dalam rangkulan anak muda, dua gadis gila kembali merasakan serangkaian aliran tenaga merasuk pada perut mereka. Aliran yang sama mereka rasakan saat mereka terbebaskan dari tekanan pengaruh pukulan seorang Barisan Awan.

“DESSS… DESSS…”

Dua benturan telah bertumbuk… berisi dua jenis tenaga… tenaga yang keluar dari putaran kaki lurus anak muda dan tenaga dari dua orang Barisan Awan… tenaga Kawanda Urumi (Gelombang Awan). Sudah tentu tubuh anak muda yang memeluk dua gadis gila terlontar ke belakang, berjungkil balik. Dua orang Barisan Awan pun terlihat telah terdorong surut tiga langkah. Dua orang itu tidak segera melanjutkan serangan, tetapi saling memandang… penuh keheranan.

“BUKKK.. BUKKK.. plok… plok… plok…”

Dua tubuh terbanting di tanah… tubuh itu terbanting karena anak muda melepaskan begitu saja pelukan pada perut mereka… melepaskan untuk bertepuk tangan. Saat itu, anak muda berjungkil balik menciptakan jarak satu setengah tumbak dari dua orang Barisan Awan … namun ia melepaskan begitu saja pelukannya pada dua gadis saat belum menginjakkan kaki mendarat ke tanah… masih melayang di udara saat berjungkil balik… karena masih di udara tentu saja tubuh dua gadis itu langsung meluncur ke tanah… jatuh bergelebuk seperti cepedhak (buah sejenis nangka berukuran lebih kecil) jatuh dari pohon.

“Waduh… Waduh… maaf… maaf…” Anak muda itu berputar-putar mengelilingi dua gadis yang terjerembab di tanah. Mata dua gadis itu melotot lebar… marah… marah karena merasa dijadikan bagian dari permaianan anak muda bajug.

“Ah kalian di sini saja… kalian sudah lelah… biar aku saja yang bermain-main.” Anak muda itu berkata kepada dua gadis gila lalu melangkah mendekati dua orang Barisan Awan yang sudah didampingi oleh tiga Barisan Awan lainnya. Saat anak muda itu beranjak pergi, dua gadis gila itu segera berdiri dan menjejag-jejagkan kaki… kesal karena ditinggal, tidak diikutkan dalam permainan.

“UUUIII… edan… sangat edan, tidak ada yang lebih edan sepanjang aku pernah lihat… PLAAKK.” Pengemis Teratai Merah bersorak kagum atas apa yang disaksikannya… sorakan itu diakhiri sengan tabokan keras pada punggung Tuak Lelap. Yang ditabok keras melotot, tapi hanya sesaat kemudian tersenyum. Seperti Mata Tuak Lelap yang tadi melotot, demikian juga Bre Prabangkara telah melototkan dua matanya… tidak percaya dengan apa yang dilihat.
“Dari mana bajug itu mendapatkan kekuatannya?” Jelas mengemuka raut muka keheranan dari Bre Prabangkara… raut muka heran ditambah dengan dua bola mata yang terbelalak lebar. Apa yang diperlihatkan oleh Bre Prabangkara, juga tampil pada wajah Senopati Samagata dan Pangeran Layang Taksaka. Sekali lagi, hanya Senopati Ramaniya yang terlihat senyum… senyum tanpa membekaskan keheranan di wajahnya.

“Kakang Agnimaya, anak bajugmu … memang benar-benar bajug… “ Dalam hati Senopati Ramaniya kata-kata itu menggema.

Di belakang Bre Prabangkara, Senopati Ramaniya dan Senopati Samagata telah bergabung puluhan prajurit Mataram… lima enam puluh prajurit yang bermarkas di Niroga Praja. Dengan isyarat, Bre Prabangkara tidak mengizinkan mereka bertindak gegabah… bertindak hanya apabila ia memerintahkan.

Saat itu, di antara dua kerumumanan, Mandrakanta melangkah dan berhenti setengah tumbak di hadapan Barisan Awan yang telah lengkap berbaris. Mata anak muda itu memandang satu persatu wajah Barisan Awan… memandang lima wajah yang kaku mengeras… namun dibalas oleh anak muda dengan raut muka bajug… cengengesan… mesam-mesem.

Tiga orang Barisan Awan maju selangkah, dua lainnya tetap tidak beranjak. Jelas mereka sedang mempersiapkan tata barisan… bertempur bersama dalam gerak tertata. Namun mereka belum juga bergerak. Tetap berdiam. Menyelidik dan menilai asal usul anak muda yang terus cengengesan di depan mereka. Barisan Awan memiliki penilaian lewat apa yang telah terjadi. Siapa pun anak muda itu? Dari mana asalnya? Tidak penting. Yang jelas, anak muda itu telah membuat mereka geram dan terhina… lewat permaianan dhadhu etoh, dan terutama lewat sebuah pukulan Kawanda Urumi yang telak mengena punggung… namun pukulan itu tidak berpengaruh pada diri anak muda. Selain itu, dua serangan Kawanda Urumi pun begitu saja terhapus oleh sapuan kaki kiri yang lurus memutas. Jadi, siapa pun anak muda itu tidaklah penting. Yang penting, bagaimana memberangus anak muda itu untuk menghapus dan membayar lunas kegeraman dan penghinaan.

Segera di sekeliling Barisan Awan telah tertutup kabut putih, sangat tebal dan menghalangi pandangan… menghalangi pandangan atas apa yang dilakukan oleh lima orang Barisan Awan di balik tebalnya kabut putih.

“Ah… Barisan Awan akan segera menggelar Kawanda Urumi (Gelombang Awan) bersama-sama, tidak seperti sebelumnya mereka menggelar Kawanda Urumi secara utuh.” Bre Prabangkara berdesah penuh kecemasan.

“SREETTT… SREETTT… SREETTT… SREETTT…”

Anak muda itu bergerak sangat cepat mendahului Barisan Awan… ia tidak bergerak lurus melainkan berliku-liku… ke kiri dan ke kanan… tangan kanan anak muda itu terbuka lebar merentang sedangkan tangan kirinya tersilang dengan telapak ditaruh merapat pada dada… sebuah gerakan pembuka apa yang telah disadap oleh anak muda itu… dua matanya… dua mata yang tidak lagi terlihat liar, melainkan memandang tajam tertuju kumpulan kabut putih tebal di mana lima orang Barisan Awan berada di dalamnya. Dalam sekejab tubuh anak muda itu terbenam ke dalam kabut putih… terbenam penuh sama sekali tidak terlihat.

Beberapa saat orang-orang yang berada di sekitar pertarungan hanya menyaksikan kabut tebal putih. Sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam sana. Namun, perlahan kabut putih itu menyusut, tidak lagi setebal sebelumnya… terus menipis menyusut sehingga samar-samar dapat dilihat bayang-bayang anak muda yang bergerak lincah menghindari gelombang serangan Barisan Awan. Dalam gerakannya, anak muda itu tidak sekedar menghindar, melainkan menghalau kabut putih tebal yang diciptakan oleh Barisan Awan. Terbukti, anak muda itu sepenuhnya telah mengusir kabut tebal ciptaaan Barisan Awan.

Kini tampak jelas lima orang Barisan Awan telah mengurung anak muda itu. Lima Barisan Awan menyerang bergelora dari lima penjuru. Masing-masing menyerang dengan pukulan, tamparan, tebasan, tendangan… serangan itu datang menggelombang. Menghadapi serangan itu anak muda bergerak mumbul-mumbul, seperti anak-anak mumbul-mumbul di atas bale-bale anyaman bambu… terus mumbul sambil berputar atau menekuk tubuh luwes dan lentur..mengandalkan kecepatan dan keluwesan gerak anak muda itu menghindari serangan Barisan Awan.

Selalu gagal mendaratkan serangan pada lawan, baik serangan pukulan langsung maupun pukulan berjarak hawa dingin Gelombang Awan, telah membuat Barisan Awan semakin geram. Sejauh ini, pukulan langsung Barisan Awan dimentahkan dengan kecepatan dan kelenturan sementara pukulan berjarak hawa dingin sirna begitu saja pada jarak dua tiga jengkal dari tubuh anak muda… hawa dingin Gelombang Awan tidak dapat menembus kekuatan pelindung yang diterapkan lawan… kekuatan pelindung yang tidak diketahui, namun jelas-jelas telah meredam tuntas pengaruh serangan berjarak Barisan Awan.

Kegagalan yang dialami segera memancing kemarahan Barisan Awan, serentak lima orang itu mengubah tata gerak. Perubahan yang terjadi begitu tiba-tiba dan mengagetkan anak muda. Serangan Barisan Awan tidak lagi menderu melainkan meledak-ledak… membawa hawa panas yang bertolak belakang dari sifat serangan sebelumnya. Selain sifat panas, gerakan yang kini dilakukan oleh Barisan Awan juga berubah dalam motif… dalam maksud… tidak lagi memburu dan mengejar seperti gelar Gelombang Awan… kini mereka justru membiarkan menunggu, mengurung, menggiring, menjepit atau menjebak untuk kemudian membidik lawan pada posisi tertentu lalu melepaskan serangan. Dilakukan secara bersama dengan peran masing-masing. Apa yang dilakukan Barisan Awan persis seperti yang dilakukan oleh kawanan pemburu… kawanan yang memainkan peran masing-masing untuk melumpuhkan buruannya. Suatu kerjasama yang sangat apik penuh variasi dan jebakan, karena masing-masing orang dari Barisan Awan bisa begitu saja bertukar peran…pengiring, penjebak, penjepit, pembidik dan penyerang… bertukar tanpa aba-aba atau isyarat, karena mereka telah begitu menyatu dalam memainkan gelar itu… gelar yang meledak-ledak.

“Kawanda Jedhot (Letusan Awan)…” Entah siapa di antara delapan blondhot yang telah melepaskan nama gelar yang dimainkan oleh Barisan Awan.

Serangan mereka jauh lebih berdaya hasil…menyergap lawan pada posisi yang diinginkan… tidak menyerang pada sembarang posisi atau di mana posisi lawan berada… Mituduh Ragab (serangan terbidik atau terarah)… menyerang lawan pada posisi yang diingin setelah melewati upaya menggiring, mengurung dan menjebak… Mituduh Ragab
merupakan inti dan kekuatan dari gelar Kawanda Jedhot atau Letusan Awan… bagian lain dari tiga gelar Yamani Kawanda (Awan Neraka).
“BLAARRR… BLAARRR…”

Dua ledakan langsung menjadi hasil dari gelar Letusan Awan. Ledakan karena anak muda yang diserang tidak dapat lagi menghindar. Harus membenturkan diri dengan seorang atau dua orang Barisan Awan yang berperan sebagai pembidik atau penyerang. Mandrakanta tidak lagi seleluasa sebelumnya, bisa mumbul-mumbul menghindari serangan yang memburunya.

“BLAARRR… BLAARRR… BLAARRR… BLAARRR…”

Semakin sering ledakan terdengar… ledakan akibat benturan yang tidak mungkin dielakkan oleh Mandrakanta jika dirinya tidak ingin termakan telak oleh pukulan Barisan Awan. Benturan itu memang sejauh ini tidak melukai Mandrakanta, namun sangat merugikan dirinya, apalagi terasa semakin menyengat panas dan datang susul menyusul… demikian Mandrakanta terpaksa meladeni benturan dengan satu atau dua orang sekaligus… lalu menyusul kemudian benturan dengan yang lain lagi… terus hal itu berlangsung. Sudah tentu keadaan ini menguras tenaga lawan… apalagi lawan yang hanya seorang.

“BLAAAAARRRRR…”

Sebuah ledakan jauh lebih keras berlangsung… ledakan yang terjadi akibat lima orang Barisan Awan secara bersamaan membenturkan serangan sekaligus. Tubuh Mandrakanta terpental jauh dan terbanting keras. Terhenti sejauh tiga tumbak dari arena laga. Tergolek di tanah.. diam tidak bergerak. Begitu pun lima orang Barisan Awan terlihat berdiri di tempatnya tidak bergerak. Lima orang itu terdiam mengatur dan mengendalikan pengaruh benturan tadi. Benturan yang telah mereka persiapkan bersama.. dengan hasil sesuai harapan mereka… membuat lawan terhempas… terkoyak bahkan luluh lantah bagian dalam tubuhnya… terkoyak karena tidak kuasa menahan gempuran Letusan Awan yang disarangkan bersama-sama secara serentak. Sekalipun, telah memenuhi harapan lima orang itu, ternyata benturan itu pun telah mendatangkan hasil di luar harapan… tidak menyangka benturan telah membuat ulu hati lima orang yang tetap berdiri bergolak keras… serasa ada desakan yang membludak ingin keluar… apa yang ingin membludak segera ditekan dan diredam. Untuk itu, lima orang Barisan Awan berdiri terdiam menahan golakan dari dalam…

Dua gadis gila melesat berbarengan ke arah tubuh anak muda yang tergolek diam di atas tanah, disusul oleh pejabat dan senopati utama dari Niroga Praja. Hanya karena jarak dua gadis gila lebih dekat, mereka tiba lebih dahulu. Langsung merangsek memburu tubuh Mandrakanta.

“Walaaahhhh… panas… panas…” Dua gadis gila mengibas-ibaskan tangan sesaat menyentuh tubuh Mandrakanta. Panas itu sangat menyengat hingga mereka urung menjamah tubuh yang tergolek terdiam.

“Ambil air… air.. cepat air…” Gadis gila berpipi dan berbibir tebal yang disebut-sebut bernama Sakwari. Dua gadis itu kalang kabut. Pejabat dan senopati utama dari Niroga Praja yang juga telah berada di sisi gadis-gadis itu hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“Lihat… ia masih hidup… kupingnya bergerak-gerak.” Teriak gadis gila lain yang disebut bernama Sakanti. Tentu saja, kata-kata gadis itu tidak dapat dipercaya, khususnya oleh Pejabat dan Senopati Utama dari Niroga Praja, yang juga berada dekat dengan tubuh anak muda yang terbujur tidak bergerak.

“Nakmas Mandrakanta…” Pejabat dan Senopati Utama dari Niroga Praja hampir bersamaan menyebut nama anak muda itu dengan suara bergetar… suara itu bergetar menyaksikan nasib buruk yang telah menimpa salah seorang putera dari kakak seperguruan mereka.

“Jangan mendekat… menyingkirlah… biarkan ia berdiri… ia akan berdiri… ia masih hidup karena kupingnya terus bergerak.” Sakanti kembali berujar tak keruan. Baik Sakwari dan Sakanti bersama-sama merapatkan tubuh di sisi tubuh Mandrakanta untuk menghalangi Pejabat dan Senopati Utama dari Niroga Praja yang ingin mendekati tubuh yang sama… tubuh Mandrakanta yang tidak bergerak… tidak bergerak dalam waktu yang cukup lama.

“Betul… aku juga melihat kupingnya bergerak-gerak.” Sambung gadis lain. Lagi-lagi kuping…

“Minggir kalian… biar aku lihat keadaan keponakanku.” Bentak Bre Prabangkara menjadi berang atas tingkah dua gadis gila. Sakwari dan Sakanti saling berpandangan, tahu siapa yang kini datang, lalu perlahan menyingkir. Bersama-sama dengan Bre Prabangkara, Senopati Ramaniya dan Senopati Samagata berjongkok mengulurkan tangan ingin menjamah memeriksa keadaan Mandrakanta.

“Biarkan gadis-gadis itu saja yang menjamahku Paman… biarpun mereka jelek-jelek dan gendheng, aku lebih duka disentuh oleh mereka… bagaimana pun mereka itu perempuan…” Kata-kata ngawur itu kali ini tidak mendatangkan kemarahan bagi Bre Prabangkara melainkan kelegaan… lega karena Mandrakanta masih bernyawa. Perlahan tubuh anak muda yang tadi terdiam kini mulai bergerak berupaya duduk… kemudian bangkit berdiri.

“Apa tadi aku bilang… ia masih hidup…” Sakanti langsung menubruk memeluk Mandrakanta yang baru saja berdiri. Segera tubuh anak muda itu terjerembab tertindih oleh tubuh gadis bermuka penuh nilak rawing (bekas luka alias bopeng).

“Tolong singkirkan gadis tutul ini dariku… hiiii…” Tidak ada satu orang pun yang bergerak membantu Mandrakanta.

Kembali peristiwa yang mengherankan disaksikan. Mengherankan, bagaimana anak muda itu tetap luput dari gempuran lima orang Barisan Awan. Keheranan itu juga merasuk ke dalam pikiran Bre Prabangkara. Belum lama ia melihat sendiri, anak muda itu terdiam tidak bergerak. Terdiam yang ia kira setidak-tidaknya mengalami luka parah, atau bahkan terbujur selamanya masuk ke dalam pelukan Batara Yama.

“Dari mana anak bajug itu menyerap kekuatan yang dapat menahan kekuatan Barisan Awan?” Bre Prabangkara membatin.

“Kakang apakah engkau mengenali siapa yang telah membentuk kekuatan Mandrakanta?” Tidak dapat menahan keingintahuannya, Bre Prabangkara bertanya kepada Senopati Ramaniya. Hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban dari pertanyaan itu.

“Kakang aku tidak percaya bila tidak melihat sendiri, anak bajug itu dapat meredam Barisan Awan. Sekalipun jarang muncul, mereka sering disebut-sebut sebagai salah satu dari lima Pelindung Perkumpulan Neraka… satu dari Yamani Sandya Arakata (Pelindung Perkumpulan Neraka)… Perkumpulan yang paling ditakuti namun tidak pernah diketahui jelas berada di mana… hanya dikabarkan berhubungan dengan sebuah pulau di selatan Yawadwipa… pulau yang dikatakan penuh dengan bunga-bungaan… Nusa Kembangan” Senopati Ramaniya hanya mengangguk. Agaknya, senopati itu pun mendengar kabar yang sama seperti diutarakan oleh Bre Prabangkara.

“Pergi… pergi…” Gadis itu bukannya pergi malah memeluk anak muda itu semakin erat, sambil menempelkan kepalanya ke dada bidangnya.

“Ayolah, tolong aku…” Anak muda itu memandang dengan tatapan meminta kepada gadis berpipi dan berbibir tebal.

“Sakanti … Bangun.. ayo bangun… sekarang giliranku.” Kata gadis pipi dan bibir tebal sambil menarik lengan gadis yang erat memeluk anak muda.

“Sudah…sudah… aku bangun sendiri.” Mandrakanta melepaskan diri saat pelukan gadis itu mengendur. Ia segera bangun, tidak rela membiarkan diri dipeluk oleh gadis buruk rupa yang lain. Anak muda itu pun berdiri. Terlihat tidak kekurangan sesuatu apa pun. Kembali melangkah mendekati lima orang Barisan Awan yang masih berdiri tegak di tempat semula.

“Weka Demit (anak setan)…” Seorang dari Barisan Awan mengumpat. Ia menumpat anak muda yang telah mereka gempur, namun berjalan santai ke arah mereka tanpa kekurangan sesuatu apa pun.

“Bersiap-siaplah… kita mainkan Kawanda Aliwawar (Badai Awan)… berangus anak muda itu dengan Badai Awan.” Seorang Barisan Awan lain menyebut nama yang aneh…Badai Awan. Tetapi mereka tidak juga segera bergerak hingga anak muda itu tiba di hadapan mereka, terpisah lima enam langkah. Tidak juga bergerak karena persiapan memasuki gelar Badai Awan.

“Paman sekalian, aku lelah… tidak ingin melanjutkan permaian ini… sampai di sini saja, lain waktu dapat kita sambung… cukup lah kali ini… paman sekalian juga telah terlihat sangat lelah… jauh lebih lelah dari diriku… aku khawatir bila kita teruskan permainan ini akan membuat tulang-tulang tua paman akan terlepas… atau nafas menjadi mengap-megap dan bisa-bisa… hup… plek… kehilangan nafas.” Anak muda itu penuh seloroh meminta Barisan Awan berhenti. Meminta berhenti lewat bahasa ngawur, hanya mendatangkan kemarahan dalam dada Barisan Awan.

“WUUSSS… WUUSSS… WUUSSS… WUUSSS… WUUSSS…”

Lima banyangan serentak bergerak dalam barisan mengelilingi anak muda.. semakin cepat dan cepat… anak muda itu berada di tengah-tengah gerakan Barisan Awan yang berputar mengeliling… saat berputar tubuh lima orang Barisan Awan hanya berupa bayang-bayang yang terlihat terus terangkat melayang di udara. Saat berputar masing-masing anggota Barisan Awan mengarahkan pukulan dan tendangan… pukulan dan tendangan yang menciptakan angin beliung… angin pusaran yang berputar mengurung anak muda dari segala penjuru… menghimpit anak muda yang dikelilingi oleh Barisan Awan dalam jarak tiga langkah.

“WUUTTT… BLAARRR… WUUTTT… BLAARRR… WUUTTT… BLAARRR”

Begitu susul menyusul terdengar. Suara desakan pusaran angin yang diikuti oleh ledakan, manakala pukulan dan tendangan pusaran angin dari Barisan Awan membentur, menghempaskan dan meledakkan bebetuan. Aneh, bebatuan itu meledak tersapu angin pusaran… hanya hempasan angin yang bersifat panas yang dapat meledakkan bebatuan. Begitulah Badai Awan yang digelar Barisan Awan… sifat panas dan berupa beliung menjadi keunikan dan keistimewaannya. Tetapi, yang lebih istimewa adalah tidak satu pun pusaran angin panas itu menghempas atau menghantam, apalagi meledakkan sasarannya… anak muda di tengah himpitan Barisan Awan yang terus berputar cepat sambil melepaskan serangan pusaran beliung panas.

Sejak Barisan Awan melepaskan gelar Badai Awan, anak muda itu sama sekali tidak bergerak. Ia berdiri pada suatu titik tepat di tengah pusaran gerakan Barisan Awan yang berkeliling…. berdiri dengan dua kaki sedikit merenggang, lalu dua tangan menyatu sejengkal di atas kepala… dengan sikap itu telah tercipta bayang-bayang lingkaran… yang mengemuka nyata berupa sebuah cakra yang berpijar ungu… semakin terang menyala…terus menebar luas meliputi sosok anak muda.

“Siva Cakra (Roda Siwa)…” Kata-kata itu melompat dari satu sosok yang berputar mengelilingi anak muda.

“Itu memang Roda Siwa… Agrapana Yatna (Tenaga Sumber atau Tenaga Hakiki) milik Siwa… Dari mana anak bajug itu menghimpun dan membangkitkan Tenaga Hakiki Siwa… tenaga untuk menghempaskan serangan badai panas Barisan Awan… Ah, syukurlah… siapa sebenarnya anak itu sama sekali tidak seperti polah kelakuannya… bajug… tak kenal aturan.” Dua mata Senopati Ramaniya terlihat berkaca-kaca, sementara ia membisikkan kata-kata itu… membisikkan dekat telinga Bre Prabangkara.

Ratusan kali suara desakan pusaran angin yang diikuti oleh ledakan telah berlangsung mewarnai jalannya laga. Tiba-tiba terjadi perubahan pada diri anak muda.Tubuhnya terangkat naik melayang di udara. Seiring dengan itu, pijaran ungu dari Roda Siwa semakin terang menyala serta menebar luas melebar… terus saja menghalau serangan pusaran angin panas.

“Sudah… kita sudahi permainan ini.” Selepas perkataan itu, tercipta pusaran ungu manakala anak muda itu bergerak memutar tubuhnya yang melayang di udara… putaran yang tidak kalah cepat dengan putaran Barisan Awan, hanya saja putaran itu berlawanan arah.

“Siva Kretya Dhamarga (Jalan Kedamaian Siwa)…” Suara dari dalam pusaran ungu menggema. Menyusul segera pusaran ungu merangsekkan dan menghimpit pusaran angin panas yang bergerak berlawanan. Bila dua pusaran berlawanan bertemu, maka terjadi gesekan yang bersifat menahan… satu sama lain… pusaran yang terkuat akan menghentikan dan selanjutnya membalikkan arah pusaran lain yang semula bergerak melawan arah. Itulah yang terjadi saat Jalan Kedamaian Siwa bertemu dengan Badai Awan. Yang kuat akan menghentikan dan memutar balik arah pusaran yang lemah.

“HOAAKK… HOAAKK… HOAAKK… HOAAKK… HOAAKK.”

Lima suara terlontar di tengah udara, di antara pusaran yang berlawanan arah telah berbenturan. Suara itu diikuti oleh lima bayangan yang terpencar mencelat. Sudah dipastikan pusaran mana yang lebih kuat di antara dua pusaran yang berbenturan. Benturan antara Jalan Kedamaian Siwa dan Badai Awan telah tampak hasilnya. Lima suara orang yang terhentak keras… terhentak sangat keras untuk mengeluarkan sesuatu yang menyumbat dada lima orang Barisan Awan. Saat pusaran angin panas tidak mampu melawan Jalan Kedamaian Siwa, saat itu juga lima Barisan Awan mengalami hantaman kuat yang telah membuat aliran darah bergolak dan telah memecahkan sebagian pembuluh darah pada paru-paru… pembuluh darah yang terhitung sangat rentan… pecahnya pembuluh darah pada paru-paru mengakibatkan dada sesak tersumbat. Untuk mengatasi rasa sesak, mereka menghentak keras mengeluarkan darah yang telah menyumbat pernafasan…. memuntahkan darah lewat hentakan yang diiringi suara keras.

Pusaran mana yang menghentikan dan yang dihentikan sudah menjadi jelas. Lima suara hentakan dan sosok-sosok yang mencelat terpencar adalah hasil yang nyata. Tetapi, mengapa dua hasil itu yang terjadi. Tidak diikuti oleh hasil lain, yakni suara terbanting tubuh ke tanah. Hasil yang terakhir ini tidak terjadi, karena lima tubuh Barisan Awan terpelanting berpencar tidak ada satu pun yang terbating ke tanah. Lima tubuh itu disambar dan didaratkan.

“Luar biasa… sangat luar biasa… suatu pertunjukan agung.” Bersamaan dengan itu tampil seorang lelaki gagah dengan dahi berhiaskan rajah seperti dimiliki oleh Barisan Awan. Tidak seperti Barisan Awan yang berperawakan kurus, lelaki itu terlihat berotot perkasa dengan wajah elok di usianya yang sudah tidak lagi terbilang muda. Kemunculan orang itu diikuti oleh delapan pria lain seusia dengan Barisan Awan. Lima di antaranya terlihat membopong Barisan Awan yang lemas terluka.

“Anak muda, Yamani Sandya (Perkumpulan Neraka) akan mencatat permainan pada malam ini. Seperti tadi katamu permaian ini sampai di sini saja, dapat disambung lain waktu… aku, Yamani Braja (Halilintar Neraka), kelak akan mewakili Perkumpulan Neraka bermain dengan dirimu… dengan senang hati aku sendiri akan menyambut dirimu jika engkau datang Nusa Kembangan… berkunjung ke Perkumpulan Neraka.” Kata lelaki gagah itu, kemudian memberi suatu isyarat kepada yang lain untuk pergi. Cepat orang-orang dari Perkumpulan Neraka menghilang. Selepas itu, terlihat Mandrakanta terus komat-kamit.

“Nusa Kembangan… Perkumpulan Neraka… Nusa Kembangan… Perkumpulan Neraka…” Berulang-ulang anak muda itu menyebut-nyebut saat mulutnya terus komat-kamit. Seperti orang linglung, Mandrakanta ngeloyor pergi tanpa mempedulikan orang-orang yang ada di sana. Tidak ada seorang pun yang menahan langkah anak muda itu. Mereka terpaku di tempat masing-masing, masih terpana pada apa yang mereka saksikan. Hanya dua gadis gila yang diajak berjalan membuntuti ke mana anak muda itu berjalan.

Sejak malam itu, apa yang terjadi di Wrahas Kartika menjadi pembicaraan… pembicaraan yang menggegerkan… terus menyebar hingga melampaui batas Niroga Praja, bahkan Poh Pitu… Geger di Wrahas Kartika, demikian kejadian malam itu tersebar luas.

Geger di Wrahas Kartika (1)

Sudah lewat tengah malam, Mandrakanta masih berada dalam keramaian. Sorak sorai kumpulan orang menjubal mengelilingi meja dhadhu etoh (pemainan judi dadu). Tumpukan kepingan mata uang Ma terserak di atas meja. Mata uang berbentuk segiempat kecil terbuat dari emas. Seluruhkan dipertaruhkan. Lenyap atau membiak bertambah seturut ketepatan mata dadu yang dilemparkan. Tepat sesuai berarti bertambah banyak, sebaliknya meleset artinya hilang. Dadhu etoh memang selalu menarik minat setiap pendatang pada Wrahas Kartika (Bintang Rejeki). Sebuah mandhapa etoh (rumah perjudian) terletak di Niroga Praja, sebuah kota berjarak sepuluh pal di sebelah barat Poh Pitu, pusat pemerintahan Mataram Kuno.

Mandrakanta menatap tanpa berkedip ratusan kali dadu yang telah dilempar. Tidak berkedip menatap berapa jumlah mata dadu saat terhenti menggelinding. Selalu mendebarkan, membuat jantung berdegub kencang. Siapa pun di sekeliling meja penuh gairah menanti dadu berhenti, lalu sebagian bersorak sementara yang lain mengumpat-umpat.

“Ah… setan alas… lagi-lagi dua… meleset… terus meleset.” Sekalipun kembali kalindhih (kalah), Mandrakanta tetap terbahak-bahak. Tidak tergambar kesedihan atas apa yang terjadi. Ia kembali meminum tuak nira langsung dari guci tembaga, meminum setengah yang masih tersisa. Dua gadis terus merapat bermanja-maja di sisi kanan dan kiri Mandrakanta. Mereka adalah dua biyada (pendamping tamu) paling ayu pada Wrahas Kartika. Bersikap manja dan genit dengan kemolekan dan bahasa tubuh untuk merayu tamu menghamburkan kepingan mata uang Ma di meja dhadhu etoh. Kini, sasaran dua gadis itu adalah Mandrakanta, anak muda tampan dengan penampilan istimewa. Anak muda dari golongan bangsawan.

“Cup.. Cup..” Dua gadis itu mengecup pipi Mandrakanta. Anak muda itu membalas kecupan dengan melingkarkan dua tangan ke leher pada gadis, segera menarik dekat-dekat keduanya dan bergantian melumat bibir kedua gadis itu, lalu kembali tertawa terbahak-bahak. Sesaat kemudian, Mandrakanta kembali meletakkan setumpuk kepingan mata uang Ma di atas meja. Meletakkan mata uang itu setelah etoh niyaka (bandar judi) memberi isyarat akan segera melemparkan dadu.

“Nakmas Mandrakanta, mari kita pulang. Paman Nakmas pasti akan marah. Sepuluh ekor kuda sudah Nakmas jual dan seluruhnya habis pada meja dhadhu etoh…” Lelaki kekar setengah baya meminta Mandrakanta berhenti berjudi.

“Ah, Paman Sadagati… aku masih ingin bersenang-senang. Paman boleh pergi…” Dengan masih memeluk leher dua gadis, anak muda berpaling kepada lelaki setengah baya dan mendorongnya mundur. Lelaki setengah baya terdorong hampir terjengkang, namun ia segera mendapatkan kembali keseimbangan lantas segera menyelinap pergi meninggalkan Wrahas Kartika. Ia bergegas dengan tidak mengacuhkan, bahkan menepis gadis-gadis biyada (pendamping tamu) yang mencoba menahan untuk tetap tinggal menghabiskan malam di Wrahas Kartika.

***

“Mana anak bajug (kurang ajar) itu? Sore tadi kestalan gopa (penjaga kandang kuda) melapor telah kehilangan sepuluh ekor. Kuda-kuda itu terlihat dibawa oleh Mandrakanta dan anak bajug itu belum juga kembali hingga larut malam. Beberapa pekan di Niroga saja, anak itu telah membuat ulah. Cepat temukan di mana Mandrakanta.” Di pendhapa sebuah bangunan besar seorang pejabat tinggi kerajaan terlihat sedang terbakar amarah di hadapan empat orang bawahan yang duduk bersila. Dua tepat di depan pejabat itu, dua lainnya agak menjauh di belakang dua yang lain.

“Adhi Prabangkara, sejak senja tadi kami telah menyebar orang-orang untuk mencari Nakmas Mandrakanta. Tetapi, hingga kini belum juga menemukannya.” Jawab seorang di antara yang duduk bersila. Orang itu berpakaian prajurit seperti seorang yang lain. Keris yang terselip di punggung dan kelat bahu (gelang yang melingkar di bahu) pada lengan dua orang prajurit itu menandakan bahwa mereka setidaknya berkedudukan sebagai seorang senopati. Senopati itu menyebut nama Bre Prabangkara pada pejabat yang sedang terbakar amarah.

“Kakang Senopati Ramaniya, aku telah dibuat ontong (jengkel) oleh anak itu. Ontong tidak hanya sekali. Dua hari sejak tiba di Niroga Praja, anak itu telah membebaskan Bidho Panca (Lima Rajawali). Lima pembunuh yang ditawan dalam Niroga Lalayan (kurungan tembok Niroga). Kemudian, sepekan lalu lima orang gadis sekaligus mengadu bahwa bajug itu menginjen (mengintip) saat mereka mandi bahkan menyembunyikan pakaian mereka. Kemudian, bajug itu menampakkan diri dan tertawa-tawa di hadapan lima gadis yang telanjang penuh mencari pakaian mereka. Sekarang, kembali bajug itu berulah membawa sepuluh kuda dan hingga kini belum juga kembali. Benar-benar bajug.” Pejabat yang disebut Bre Prabangkara melampiaskan kemarahan yang meluap-luap.

“Adhi Prabangkara, sekalipun Nakmas Mandrakanta telah melepaskan Lima Rajawali namun ia pula yang membawa dan mengurung kembali lima pembunuh itu ke dalam Niroga Lalayan. Lima Rajawali begitu ketakutan pada Nakmas Mandra….”

“Kakang Senopati selalu membela anak bajug itu. Anak itu selalu berulah bajug, tidak mengenal aturan. Aku takut kelak anak itu tidak dapat dikendalikan sehingga ulahnya akan mencoreng kebesaran Mamrati.” Bre Prabangkara mengepalkan tangan. Gemas dan geram. Sementara pejabat utama Niroga Praja terhanyut dalam kegusaran, seorang terlihat beringsut takut-takut mendekati dua orang lain yang bersimpuh di belakang dua senopati kemudian berbisik lalu cepat-cepat beringsut menghilang.

“Kakang Bre Prabangkara, baru saja Adhi Sadagati melaporkan kalau Nakmas Mandrakanta tengah berada di Wrahas Kartika..” Kata Senopati lain di samping orang yang disebut oleh Bre Prabangkara dengan Kakang Senopati Ramaniya.

“Adhi Samaga….” Ucapan Senopati Ramaniya terputus oleh perintah Bre Prabangkara. Sebenarnya, Senopati Ramaniya inging mengingatkan Senopati Samagata untuk tidak mengatakan keberadaan anak muda yang dicari saat Bre Prabangkara sedang murka. Ia berniat mengurus dan menemukan sendiri anak muda yang dicari.

“Ayo, ikut aku ke Wrahas Kartika untuk menyeret pulang bajug itu.” Sambil membelalakkan mata pada Senopati Ramaniya, Bre Prabangkara mengajak empat orang di sana ke tempat yang dikatakannya. Pejabat utama Niroga Praja pergi ke Wrahas Kartika dengan gelora kemarahan di dada.

***

“Ha…ha…ha… lihat aku masih belum beruntung.” Tangan anak muda yang melingkari leher dua gadis biyada bergerak nakal menyusupi pinjungan (kain penutup buah dada) di balik sampur (selendang) yang diselampirkan di luarnya. Jelas sasaran tangan anak muda itu tidak lain sepasang mundri yang menggunung menantang. Mendapat perlakuan itu, dua gadis biyada pura-pura malu dan berusaha menghindar namun mulut mereka terus cekikikan terus menebarkan godaan. Orang-orang di sekelilingi meja dhadhu etoh (pemainan judi dadu) yang melihat tingkah anak muda itu terlihat tersenyum-senyum, bahkan sebagian tertawa.

Semakin larut Wrahas Kartika menjadi semakin ramai. Gelak tawa dan sorak-sorai tidak pernah terputus. Sekalipun beberapa orang telah meninggalkan Wrahas Kartika, entah karena sudah cukup mendapatkan kemenang di malam itu atau karena tidak lagi memiliki uang untuk dipertaruhkan, namun yang datang berkunjung ke Wrahas Kartika jauh lebih banyak dibandingkan yang lengser pergi.

Lima orang terlihat memasuki ruangan utama Wrahas Kartika. Suasana hingar bingar langsung berubah menjadi senyap saat lima orang itu melangkah masuk mendekati sebuah meja dhadhu etoh. Orang-orang yang semula berdiri di sekeliling meja itu sebagian pergi menyingkir saat menyadari kedatangan lima orang yang baru tiba di meja Wrahas Kartika.

“Nakmas Mandrakanta, mari pulang… Pamanmu, Bre Prabangkara, datang ke tempat ini menyusul.” Senopati Ramaniya yang berdiri paling depan berkata kepada anak muda yang masih merangkul leher dua gadis biyada menghadap meja dhadhu etoh.

“Ah, Paman Ramaniya. Paman juga ingin menemani aku bermain dhadhu etoh.” Anak muda itu membalikkan badan tetap sambil merangkul leher dua gadis biyada. Tidak terlihat wajah ketakutan atau gentar pada anak muda itu sekalipun ia mengenali siapa yang telah datang. Tentu saja, mata Bre Prabangkara telah menyala seolah-olah ingin membakar hangus anak muda yang telah bertingkah seperti yang disaksikannya.

“Kalian pergilah.” Perintah Senopati Ramaniya pada dua gadis biyada.

“Ehhh… Santika… Laksita… jangan.. kalian jangan pergi. Tetaplah bersamaku.” Anak muda itu mempererat rangkulan pada leher dua gadis itu saat keduanya ingin melepaskan diri. Kini, dua gadis biyada yang semula bertingkah kenes dan genit terlihat sangat ketakutan.

“Sudah tetap di sini, selama kalian bersamaku siapapun tidak akan berbuat macam-macam. Ada aku di sisi kalian. Cup.. Cup..” Anak muda itu mengecup dua bibir gadis biyada yang telah menjadi sangat ketakutan. Mengecup dua gadis itu di bawah puluhan pasang mata, termasuk sepasang mata yang semakin memerah menyimpan amarah membara. Sepasang mata milik Bre Prabangkara.

“Ah, Paman Prabangkara juga datang. Mari ke sini Paman, jangan hanya bersembunyi di balik Paman Ramaniya dan Paman Samagata.” Anak muda itu mengeluarkan kata-kata begitu saja. Kata-kata di bawah pengaruh belasan guci tuak nira yang telah ditenggak. Sontak, kata-kata itu seperti menampar wajah Bre Prabangkara, pejabat utama Niroga Praja.

“BUKKK… BRAAKKK”

Bre Prabangkara tiba-tiba muncul dari antara Senopati Ramaniya dan Senopati Samagata yang berdiri di depan. Ia menyeruak dan mengirimkan sebuah tendangan keras kepada anak muda yang masih memeluk leher dua gadis biyada. Tendangan sangat keras tepat mengena perut anak muda hingga tubuhnya terlontar dan menabrak meja dhadhu etoh (pemainan judi dadu) hingga berantakan. Dua gadis biyada menjerit keras sambil berlari menjauh. Begitu juga orang-orang di seputar meja dadu, semua bubar… lari terbirit-birit.

“Ah, sayang meja dhadhu etoh telah menjadi rusak. Tapi, kita masih bisa bermain di lantai.” Anak muda itu bangkit terhuyun namun tidak kurang sesuatu apa pun dan langsung duduk di samping meja dhadhu etoh yang telah patah-patah dua kakinya. Akan tetapi, tendangan keras Bre Prabangkara terlihat tidak memberi pengaruh pada anak muda itu. Hanya merusak meja dhadhu etoh.

“Anak bajug…” Bre Prabangkara kembali mengirimkan tendangan ke punggung anak muda. Tendangan yang jauh lebih keras dari sebelumnya. Telak mengena punggung yang sama sekali tidak terjaga. Anak muda itu kembali meluncur hingga satu tumbak. Saat meluncur, tubuh anak muda itu menabrak apa pun. Tabrakan dengan meja dhadhu etoh tidak kuasa menghentikan luncuran tubuh anak muda… terus melaju menabrak beberapa orang yang juga ikut terjatuh. Tubuh anak muda itu baru berhenti karena tertahan oleh tembok ruangan Wrahas Kartika.

“Ayolah Paman Prabangkara, kita bermain dhadhu etoh.” Anak muda itu bangkit kembali.

“Adhi Prabangkara.. cukuplah jangan terlalu keras pada Nakmas Mandrakanta.” Senopati Ramaniya menahan Bre Prabangkara yang sudah tidak dapat menahan diri. Pejabat utama Niroga Praja berancang-ancang untuk menghantam anak muda dengan kepalan tangan. Kepalan tangan yang telah dilambari dengan tenaga Kancana Tusara (embun kencana)… kekuatan yang disadap dari padepokan Kancana Diwangkara (Surya Kencana).

“Nakmas Mandrakanta, mari kita pulang. Mohon jangan menambah kemarahan Adhi Prabangkara.” Senopati Ramaniya dengan sabar berkata pada anak muda yang baru saja menerima dua tendangan keras.

“Paman, aku masih belum ingin pulang. Ayo mari sini Santika… Laksita… datanglah mendekat kepadaku… jangan takut, ayo ke mari… kita kembali melempar dadu.” Dua gadis biyada bergetar mundur, saat anak muda itu memandang mereka sambil mengutarakan ajak untuk kembali bermain dhadhu etoh.

“Ah…” Senopati Ramaniya menggeleng kepala.

“Dasar bajug…” Bre Prabangkara berkelebat, tidak tertahan.

“BUK.. BUK.. BUK.. BUK.. BUK.. BAAMMM”

Rentetan pukulan bertubi-tubi menghantam anak muda. Pukulan dari Bre Prabangkara. Pejabat utama Niroga Praja sekaligus salah satu dari empat murid utama Kancana Diwangkara… murid utama yang digembleng langsung oleh Mpu Nirpataka, sang Dwijawara (maha guru) dari Kancana Diwangkara. Pukulan itu bukan pukulan sembarangan, telah dilandasi dengan kekuatan Tusara Kancana (embun kencana). Tidak ayal, tubuh anak muda itu mencelat melayang menabrak kembali tembok batu yang sebelumnya juga telah tertabrak.

Empat murid utama Mpu Nirpataka merupakan satria utama. Tidak hanya dikenal di lingkungan rimba hijau tetapi juga di antara penguasa Yawadwipa. Mereka disebut sebagai Catus Satriya Tusara Kancana… Empat Satria Embun Kencana. Tiga dari empat Catus Satriya Tusara Kancana telah berada di Wrahas Kartika. Mereka tidak lain Senopati Ramaniya, Bre Prabangkara dan Senopati Samagata. Selain mereka, masih seorang lagi. Seorang yang sangat terhormat, murid tertua dari Mpu Nirpataka, Agnimaya. Murid terakhir tinggal pada istana Mamrati, pusat pemerintahan Mataram Kuno. Di antara Empat Satria Embun Kencana, Agnimaya dan Prabangkara merupakan kakak beradik… saudara sekandung, dengan Agnimaya yang lebih tua dari Prabangkara.

“HIK… HIK… HIK…HOAAKK.” Anak muda itu cegukan setelah beberapa saat terbaring di lantai setelah menumbuk tembok batu, lalu memuntahkan cairan.

“Nakmas Mandrakanta…” Senopati Ramaniya meloncak memburu ke arah anak muda yang sedang memuntahkan cairan… memburu untuk melihat keadaan anak itu.

“HOAAKK… HOAAKK… HOAAKK…”

Kembali anak muda itu memuntahkan cairan. Tidak berwarna merah, melainkan putih. Bukan darah, tetapi cairan nira yang diminum sebelumnya. Sambil mengusap mulutnya, anak muda itu kembali berdiri. Sempoyongan, tetapi terlihat sama sekali tidak terluka. Dua mata sayu anak muda itu menatap ke arah Pejabat Utama Niroga Praja.

“Paman Prabangkara, lima belas tahun aku terkucil di gunung berselimut kabut… kesepian… tidak pernah menggoda dan menjamah bidadari-bidadari cantik seperti malam ini… di gunung itu aku hanya dapat membelai dan bercengkrama dengan gadis-gadis gunung yang hanya mandah terlelap unang anjrah (mabuk cinta) dalam pelukanku… HIK… HIK… HIK…” Anak muda itu berhenti karena cegukan kembali.

“Wrahas Kartika menawarkan kelimpahan Kamarasa (kenikmatan). Sayang untuk dilewatkan, apalagi oleh diriku yang hanya telah terpasung di atas gunung. Terpasung dalam waktu yang lama..Ha… Ha… Ha… Paman, aku sungguh menjadi atiyanta aswa (kuda perkasa)… HOAAKK…” Anak muda itu kembali memuntahkan cairan putih.

Sebenarnya, apa yang telah terjadi sungguh mengagetkan. Mengagetkan tiga dari Empat Satria Embun Kencana. Terutama, Bre Prabangkara yang telah melepaskan lima pukulan Tusara Kancana (embun kencana). Telak mendarat di tubuh anak muda itu, namun tidak memberi pengaruh. Bre Prabangkara tahu bahwa seperti dirinya, anak muda itu pun berguru pada Mpu Nirpataka, namun dari kabar yang diterima anak muda itu sarampangan dan morat-marit… tidak “ngenah” sering pergi dari padepokan tanpa juntrungan… berpekan-pekan bahkan pernah pergi menghilan beberapa purnama, kemudian kembali. Tetapi entah mengapa Mpu Nirpataka tetap menerima anak muda bajug urakan itu di padepokan Kancana Diwangkara. Memang, lima belas tahun anak bajug itu menghabikan hidupnya di gunung berselimut kabut… menghabiskan waktu sia-sia… tidak tuntas menyadap Tusara Kancana (embun kencana) seperti dirinya.

“Aneh, anak bajug itu tetap mampu berdiri tegak. Agaknya ia selalu selamat dan luput dari hukuman… tetapi tidak kali ini.” Bre Prabangkara membatin, mempersiapkan hukuman lebih berat yang dinilai pantas diterima anak bajug di hadapannya.

“Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Lihat, Bre Prabangkara tidak mampu mengurus anak ingusan… lima pukulan Tusara Kancana hanya pukulan sebangsa kajangsirah (bantal).” Entah dari mana suara itu datang menggema.

“Ki Sanak, tunjukkan dirimu, jangan hanya gupi dhelik (main sembunyi).” Bre Prabangkara memandang sekeliling, mencari sumber suara yang masih belum menampakkan diri.

“Aku di sini.” Segera orang-orang di sekitar sumber suara menyibak ke samping. Berdiri seorang lelaki kurus telanjang dada… hanya mengenakan kain kasar sebatas pinggang. Kain kasar sebagaimana kebanyakan papriman (pengemis) kenakan. Kain itu berwarna merah… dengan hiasan padma (teratai) pada pinggang. Di sampingnya, dua gadis tampil janggal… berwajah serupa dengan rambut terurai tidak beraturan… sama-sama tidak enak dipandang mata… namun dua gadis itu memiliki tubuh molek terbalut kain sebatas dada… mengenakan kain palèlèr (pakaian bekas penuh tambalan)… benar-benar seperti gadis gila, tidak waras.

“Padma Papriman (Pengemis Teratai Merah)… tentu kalian Dhampit Baring Kanya (Gadis Gila Kembar).” Bre Prabangkara memastikan siapa yang telah menampakkan wujud.

“Tiga dari Empat Satria Embun Kencana telah menyelonong pelesiran mencari Kamarasa (kenikmatan). Walahdalah…he… he…” Raut Padma Papriman menampilkan muka ketolol-tololan.

“Genduk sana temani Empat Satria Embun Kencana bersenang-senang, jika masih juga kurang Paman akan carikan tambahan gadis biyada… lima… sepuluh… atau barangkali seluruh yang ada di Wrahas Kartika… kalau masih juga kurang, Paman akan ambilkan dari tempat lain… he… he…” Padma Papriman terkekeh-kekeh kembali.

“Tak sudi Paman… Tak sudi… biar Sakanti saja… cukup Sakanti nanti juga Empat Satria Embun Kencana akan terpuaskan… terus mengerang-ngerang… menjal-menjil.. sambil menyebut… Sakanti ohh… Sakanti.. Sakanti…ohh… lalu ngelesor… terkapar lunglai terbius dalam unang anjrah (mabuk cinta)…ketiganya memeluk Sakanti, tidak ingin lepas. Satu pada paha kiri, satu paha kanan dan lainnya mengelayut di lengan sambil meremas-remas…” Perkataan ngawur itu terhenti. Perkataan dari salah satu Gadis Gila Kembar yang memiliki wajah berpipi dan berbibir tebal… tidak lumrah.

“Apa yang diremas-remas, Mbakayu Sakwari… enak saja tidak akan biarkan mereka meremas itu… enak saja, setelah siram garba (rahim) dengan raswa (air mani)… mereka harus membayar… membayar mahal begitu juga bila mereka ingin meremas-remas… tapi tidak mengapa mereka boleh jaul (berhutang)… biar nanti Paman Padma Papriman yang akan menagih jaul mereka.” Seorang gadis lain menimpali. Gadis berwajah yang juga sangat tidak menarik, penuh nilak rawing (bekas luka alias bopeng). Katanya sama ngawurnya.

Memerah seketika wajah Bre Prabangkara dan Senopati Samagata. Hanya Senopati Ramaniya yang terlihat masih tenang. Dua dari Empat Satria Embun Kencana terlihat bergetar menahan amarah akibat kata-kata tidak keruan bahkan kurang ajar dari Pengemis Teratai Merah dan Gadis Gila Kembar. Kata-kata yang sangat tidak pantas diucapkan oleh siapa pun, apalagi dua orang gadis. Sangat tidak pantas, lebih-lebih kata-kata itu ditujukan bagi Pejabat dan Senopati Utama Niroga Praja.

“Rupanya, pengemis tua dan dua gadis tengik bau… mana boleh kulita panjalin (menjalin kemesraan) dengan yang terhormat dari Niroga… seperti melekatkan turangga kotaka (kotoran kuda) pada Santika (Mutiara)… tidak pantas, sangat tidak pantas… biar aku saja yang menemani Empat Satria Embun Kencana. Aku jamin mereka akan terpuaskan… satu pekan penuh… hi.. hi.. hi.. hi..” Suara lain menggema kemudian disusul kemunculan seorang dengan rambut bersanggul apik berhiaskan untaian bunga warna-warna… bertubuh molek, tidak malu-malu memperlihatkan keindahan lekukannya, karena ia hanya berbalutkan kain sutera tipis…begitu saja dapat terterawang apa yang terbungkus di balik kain tipis itu.

“Walah… Nyai Wulinga Kandhil (Pelita Birahi)… jangan dekat-dekat…” Pengemis Teratai Merah bertingkah kocak berusaha sembunyi di balik tubuh Gadis Gila Kembar.

“Kakang…” Bre Prabangkara tidak menyelesaikan kalimatnya, terhenti oleh suara orang yang menguap.

“OAAHHH… BUK.” Suara itu diikuti dengan bunyi tubuh yang jatuh ke lantai, tidak jauh dari anak muda yang telah menerima tendangan dan pukulan dari Bre Prabangkara. Jatuh dari atas dan masih diam berbaring.

“Ayo, kakek tua… ayo bangun.” Anak muda itu menarik berdiri tubuh tua yang terjatuh dan menyandarkan pada dinding batu bangunan. Menarik begitu saja… sangat biasa.

“Haaa..haaa… baru kali ini aku lihat ada orang yang dapat membuat Biler Wragang (Tuak Lelap) berdiri… luar biasa.” Suara lain menyeruak datang dari lelaki gendut bulat. Agaknya, tindakan biasa anak muda memapah bangun dan menyandarkan tubuh yang terjatuh telah menarik perhatian… perhatian dari Pengemis Teratai Merah, Nyai Pelita Birahi dan lelaki gendut bulat yang baru datang, termasuk juga Tiga dari Empat Satria Embun Kencana. Tidak kalah terkejut, tentunya adalah Tuak Lelap sendiri, begitu kagetnya ia pun membuka mata…terbangun dan menatap anak muda yang telah membuatnya bangkit berdiri.

“Kakang, mengapa empat dari delapan blondhot (tokoh aneh tidak tahu aturan) datang ke Niroga Praja…” Bisik Bre Prabangkara kepada Senopati Ramaniya. Yang ditanya menjawab dengan gelengan kepala. Pengemis Teratai Merah, Nyai Pelita Birahi dan Tuak Lelap yang disebut namanya oleh lelaki gendut bulat, yang tidak lain bernama Gilig Jathara (Perut Bundar) disebut oleh Bre Prabangkara sebagai blondhot…. tokoh aneh tidak tahu aturan.

“Haa…haa… haa… haa… haa… Bagus-bagus…kini semua blondhot telah hadir.” Sebuah tawa kembali hingar. Seketika muncul dari balik kerumunan orang di luar Wrahas Kartika. Seorang muda yang sangat tampan sekalipun tidak setampan anak muda yang disebut oleh pejabat dan senopati Niroga Praja dengan nama Mandrakanta.

“Nakmas Layang Taksaka (Ular Terbang)…” Orang-orang dari Niroga Praja berkata sambil memberi sembah hormat. Hormat di hadapan anak muda yang baru tiba diiringi dengan empat lelaki tua… lelaki tua yang semuanya berpenampilan aneh. Empat blondhot lain, tokoh tidak tahu aturan. Orang-orang dari Niroga Praja sangat terkejut bagaimana seorang Pangeran Layang Taksaka yang sangat terhormat bisa bergaul dengan manusia-manusia blondhot. Mereka mungkin tidak heran apabila delapan blondhot itu bergaul dengan Mandrakanta. Anak muda bajug… bajug bertemu blondhot tentu jauh lebih pas. Tetapi, mengapa justru Pangeran Layang Taksaka yang bersama manusia-manusia blondhot? Pertanyaan ini mengguncang hati mereka.

“Paman Ramaniya, Paman Prabangkara dan Paman Samagata. Bagaimana kabar Paman sekalian.” Anak muda itu agak heran mengapa ketiga Pamannya berada di mandhapa etoh (rumah perjudian). Tetapi, keheranan itu hanya sesaat manakala mata anak muda itu melihat seseorang di samping Tuak Lelap.

“Pasti ini ulah Kakang Mandrakanta, hingga Paman sekalian berada di mandhapa etoh ini… Kakang… Kakang… Kakang… kapan Kakang akan berubah? Rama Agnimaya hampir tidak dapat tidur, selalu memikirkan ulah Kakang… di padepokan Kancana Diwangkara atau di Niroga Praja… sama saja selalu berulah mendatangkan malu.” Anak muda itu dengan nada melecehkan mengatakan apa yang dilakukan oleh Mandrakanta.

“Ah, Adhi Layang Taksaka juga datang… mari… mari… kita bermain dhadhu etoh… Kakang ingin lihat sejauh mana keberanian Adhi bertaruh… orang-orang yang bersama Adhi juga boleh ikut meramaikan permainan dadu… ah, aku lupa Paman Prabangkara…bisa juga meramaikan.” Mandrakanta tidak peduli siapa yang datang, mulutnya terus menyerocos tentang pemainan dadu… permainan yang telah terhenti.

Kini, delapan blondhot berikut Gadis Gila Kembar telah berdiri di belakang Pangeran Layang Taksaka. Wajah mereka tersenyum, melihat bagaimana Mandrakanta dengan langkah-langkah bergoyang mempersiapkan meja dadhu etoh. Seorang diri, karena tidak ada satu pun yang berani membantu anak muda itu. Sementara itu, orang-orang dari Niroga Praja hanya menggeleng-gelengkan kepala. Hanya Bre Prabangkara terlihat melotot menyala dengan tubuh bergetar menahan amarah.

“Nakmas Layang Taksaka, apa tidak lebih baik Paman menyambutmu di Niroga Parsada?” Bre Prabangkara mengajukan permintaan.

“Tidak perlu Paman. Aku hanya singgah di Niroga Praja dan mengundang Paman blondhot. Akan tetapi, kebetulan sampai ke tempat ini karena keramaian… sebaiknya, Paman membawa Kakang Mandrakanta pergi. Lihat, lakunya seperti orang degrès (gila)… sungguh tidak kenal aturan..” Pangeran Layang Taksaka kembali memberikan penilaian pada Mandrakanta.

“Sayang… sayang… jika tidak ada yang ingin bermain, baik kami akan menemanimu, anak muda.” Kembali Wrahas Kartika kedatangan tamu. Lima orang sekaligus. Kurus kering. Pada kening mereka terdapat rajah… rajah merah berbentuk kobaran api. Ciri yang tidak mungkin tidak dikenal oleh mereka yang ada di sana. Rajah sebagai ciri dari Yamani Sandya (Perkumpulan Neraka).

“Kawanda Pretana (Barisan Awan) dari Yamani Sandya (Perkumpulan Neraka)…” Nyai Wulinga Kandhil, seorang dari delapan blondhot, berbisik. Suaranya bergetar menyimpan kegentaran, dan tanpa disadari, tubuh wanita itu menggeser rapat, seakan-akan ingin menyembunyikan diri di antara blondhot yang lain.

Selepas suara wanita itu, suasana Wrahas Kartika sepi dan hambar. Ketegangan telah menyusup dan merambah bersamaan dengan kedatangan lima orang dari Perkumpulan Neraka. Di hadapan Perkumpulan Neraka, delapan blondhot pun tidak berani berayal bertindak sembarang… tidak berani asal bertingkah. Bahkan, Pangeran Layang Taksaka yang semula bertingkah layaknya tua besar, langsung susut keriput di hadapan lima Barisan Awan.

“Ah, akhirnya meja dhadhu etoh telah siap. Tetapi…Lah… Lah… Kok jadi sepi.” Mandrakanta berpaling ke kiri dan kanan dengan wajah heran bertanya-tanya menyadari bahwa sekelilingnya telah bungkam sepi.

“Tadi siapa yang ingin main dhadhu etoh denganku?” Tanya Mandrakanta sambil mencari orang yang tadi telah bersedia bermain dhadhu etoh dengan dirinya.

“Anak muda, kami akan menemanimu.” Salah seorang dari Barisan Awan berkata kemudian mereka pun berdiri di sekeling meja dhadhu etoh mengapit Mandrakanta, dua di kiri dan tiga di kanan.

“Tetapi, apa yang akan jadi etoh (taruhan) anak muda?” Barisan Awan di sisi kiri Mandrakanta bertanya.

“Kami tidak memiliki kepingan mata uang, dan tidak menyukai kepingan mata uang…jadi bukan mata uang yang akan jadi etoh… kami mengingkan sesuatu yang lain.” Wajah Senopati Ramaniya dan Bre Prabangkara putih pucat, saat seorang dari Barisan Awan mengatakan”sesuatu yang lain sebagai etoh”.

“Baik..baik… aku juga sama sekali tidak mengingankan mata uang sebagai etoh… mungkin ini kita jadikan etoh… HOAAKK… HOAAKK… HOAAKK… HOAAKK… HOAAKK…” Lima kali anak muda itu memuntahkan tuak. Memuntahkan tuak di lantai dekat kaki masing-masin Barisan Awan. Melihat apa yang dilakukan anak muda, orang-orang di Wrahas Kartika kian memucat… tidak habis pikir bagaimana anak muda yang disebut sebagai Kakang oleh Pangeran Layang Taksaka bermain-main dengan kawanan Barisan Awan.

“Yang kalah akan memakan wragang utahan (muntahan tuak)…” Kata anak muda itu. Orang-orang semakin terkejut dengan tantangan anak muda itu. Senopati Ramaniya dan Bre Prabangkara kian khawatir. Ulah anak muda yang dalam lindungan mereka sungguh berlaku di melewati batas kewarasan… bahkan cenderung bermain-main dengan Batara Yama.

“Itu tidak adil, anak muda. Tidak adil bagi kami. Jika kami menang dalam dhadhu etoh, kami tidak ingin engkau menelan kembali utahan itu… kami menginginkan kepalamu.” Sungguh menggidikkan apa yang dikatakan seorang dari Barisan Awan.

“Kepalaku? Haa..haaa…haaa… dengan lima paman ini menginginkan kepalaku jika mereka memenangi etoh… tidak salah itu paman? Kepalaku ini hanya berisikan kesintingan belaka… tidak berharga… hanya orang yang sungguh sinting dan ngawur yang menginginkan kepalaku…agaknya paman-paman memang orang yang jauh lebih sinting dan ngawur dibanding celeng (babi hutan) yang terabas sana terabas sini saat terjepit pemburu…” Mandrakanta terus mengoceh mengatakan Barisan Awan sinting dan ngawur bahkan sinting dan ngawur melebihi celeng.

“Gila… anak itu benar-benar telah menjadi gila.” Kesal Bre Prabangkara mengumpat pelan menyaksikan polah Mandrakanta. Kesal di tengah kecemasan yang mendalam.

“Kami memang ngawur dan sinting, anak muda. Kami benar-benar menginginkan kepalamu dalam permaianan dhadhu etoh.” Dingin seorang Barisan di sebelah kiri Mandrakanta memberi jawaban.

“Baik…baik.. aku setuju. Paman berlima akan memakan utahan di lantai, jika kalah. Sedangkan, jika aku yang kalah paman akan mengambil kepalaku… haaa…haaa… mengambil kepala? Bagaimana caranya? Ah, entahlah terserah bagaimana cara paman berlima mengambil kepalaku.” Kembali Mandrakanta nyerocos asal bicara… bicara semaunya… membuat siapa pun yang mendengar menjadi ngeri.

“Bagaimana kita bermain dhadhu etoh?” Tanya seorang Barisan Awan.

“Kita gunakan tiga dhadhu. Aku melempar satu, lalu paman ini satu dan satu lagi oleh paman yang lain.. terserah siapa. Aku bertaruh angka kecil yang akan terlihat pada tiga mata dhadhu bila dijumlahkan…angka kecil artinya jumlah tiga mata dhadhu yang nanti kita lembar akan berjumlah kurang dari sepuluh. Apabila jumlahnya nanti sepuluh ke atas aku akan kalah.” Orang-orang di sana kaget mendengar aturan yang dikatakan anak muda itu. Barisan Awan merupakan lima orang dengan kekuatan yang tidak terukur… dengan penguasaan tenaga dalam yang mereka miliki tentu mudah untuk melempar dhadhu dan menghentikan mata dhadhu pada angka besar… dua angka besar sudah cukup menjadikan mereka pemenang dan membawa pulang kepala anak muda itu.

“Gila… benar-benar anak gila. Barisan Awan yang melempar dua dhadhu akan sangat mudah membenamkan dhadhu pada angka besar, misalkan angka empat dan lima. Angka berapa pun dari dhadhu yang dilempar anak muda itu tentu sama sekali tidak berpengaruh… Barisan Awan sudah pasti akan memenangkan dhadhu etoh… dasar gendheng…” Pengemis Teratai Merah menggumam.

“Bagaimana Paman, sudah mengerti aturan permaian kita.” Barisan Awan tersenyum dan mengganggukkan kepala, lalu menerima dua dhadhu yang disodorkan anak muda itu. Dua dhadhu itu diterima oleh Barisan Awan. Satu di sebelah kiri dan satu lagi di kanan.

“Wresah…Wresni … Wresthi… Oh, Betara Agung… berikan kemenangan kepadaku kali ini… sejak senja tadi aku belum juga mendapat kemenangan… Wresah…Wresni … Wresthi…” Anak muda itu komat-kamit berkata-kata tidak jelas, seolah-olah membaca mantra untuk meminta kemenangan.

“Bagaimana anak muda, siap?”

“Sebentar lagi Paman…Ahh….lega.” Anak muda itu melepaskan angin… seperti senggung, sebangsa musang yang punya senjata kentut yang baunya luar biasa untuk mengganggu lawan yang mengancam.

“Kurang ajar…” Seorang Barisan Awan menggeram.

“Ayo… aku sudah siap.. mari kita lempar dhadhu bersamaan… satu, dua, tigaaa… lempar.” Anak muda itu memberi aba-aba dan serentak tiga dhadhu telah dilempar di atas meja…

“Ayo terus berputar… jangan dulu berhenti… tidak seru… ayo terus berputar… biar etoh berlangsung menegangkan…” Anak muda itu bersorak-sorak di depan meja dhadhu etoh. Seperti dikatakan anak muda itu dhadhu itu terus berputar, namun berputar aneh… berputar cepat… lalu mengendur ingin berhenti namun kembali berputar cepat kembali… begitu terus berlangsung. Anak muda itu terus bersorak-sorak seiring dengan gerak tiga dhadhu yang terus berputar… belum juga berhenti.

“Dasar bajug… gila…” Ungkapan itu keluar dari Senopati Ramaniya sambil tersenyum. Suatu ungkapan, bukan umpatan. Sekalipun berada dalam kecemasan mendalam, Senopati Utama Niroga Praja itu penuh kecermatan mengamati apa yang tengah berlangsung di antara Mandrakanta dan Barisan Awan. Sementara Mandrakanta terus bersorak sorai, terlihat keringat telah membasahi rajah di kening lima Barisan Awan. Keringat terus mengalir karena telah mengerahkan tenaga dalam untuk menghentikan dhadhu yang berputar… tapi sejauh ini tidak ada satu pun dhadhu di atas meja yang telah terhenti… angka besar atau kecil belum juga diketahui… menang atau kalah belum bisa dipastikan.

 

Prologue

Air mengalir mengikuti liku-liku ceruk
dari tempat lebih tinggi ke yang lebih rendah
Angin pun berhembus menyusur ruang
Beranjak menuju yang hampa dari yang berisi
Air dan angin mengikuti hukum alam
Begitu juga yang lain, hukum alam jadi pijakan

Apa arti hukum alam bagi Bajug Anggakara
Anggakara itu pahlawan yang berani
Bajug berarti tanpa aturan juga kurang ajar
Pahlawan tanpa aturan semata mengikuti kehendak hati
Hanya kehendak hati satu-satunya hukum
Hukum tunggal Bajug Anggakara

Bajug Anggakara… Pahlawan Tanpa Aturan… bertutur tentang perjalanan Mandrakanta, seorang Pangeran Mataram Kuno, namun sejak kecil tidak hidup di lingkungan istana… lingkungan istana dengan segala aturan. Jauh di atas gunung berselimut kabut, sebuah padepokan Kancana Diwangkara membuka dan membentuk Mandrakanta. Tidak dengan aturan istana, tetapi Bajug Dhamarga (jalan tanpa aturan). Jalan tanpa aturan yang tidak disadap dari Mpu Nirpataka, sang Dwijawara (maha guru) dari Kancana Diwangkara, melainkan datang dari sosok asing… Mencira Walaya (Pengelana Kesepian) yang telah membekali dengan Agrapana Yatna (Tenaga Sumber) sekaligus menggelorakan sifat-sifat bajug dalam diri Mandrakanta… dan melahirkan seorang Bajug Anggakara.

Selamat mengikuti.