THE FACT OF POWER

Peristiwa kekuasaan selalu menyimpan sejuta misteri. Menampilkan wajah tidak berhingga dengan milyaran interaksi dan interest berbelit di dalamnya. Begitulah the fact of power

***

Yawadwipa, 920 Masehi

Bersamaan dengan Dyah Tulodhong berkuasa di Bhumi Mataram di belahan tengah Yawadwipa, di barat berdiri tegak kraton Sunda Galuh… saya lebih suka menyebutnya Bhumi Galuh agar sejalan dengan penyebutan Bhumi Mataram, di mana nama Bhumi sudah biasa dipakai untuk merujuk pada suatu kedaulatan di wilayah tertentu.

Harus diakui bahwa tidak ada bukti sejarah yang mencatatkan interaksi (politik, budaya, militer, ekonomi atau lainnya) dari dua wilayah berdaulat di barat (Bhumi Galuh) dan di tengah (Bhumi Mataram) pulau Yawadwipa pada kurun waktu abad ke-10. Namun demikian, ini sama sekali tidak membuktikan Bhumi Galuh dan Bhumi Mataram berdiri secara eksklusif satu sama lain. Berdiri sebagai dua kekuasaan di Yawadwipa tanpa suatu hubungan satu sama lain. Sangat kecil kemungkinan, dua wilayah yang tersatukan dan hanya berjarak kurang dari lima ratus kilometer (artinya bisa ditempuh dengan berkuda selama kurang dari 10 hari), sama sekali tidak berinteraksi. Dapat dipastikan dua wilayah kekuasaan tersebut saling berinteraksi, sekalipun tidak ada sumber berita yang mengungkapkan interaksi keduanya pada periode tersebut.

Dengan kemungkinan tersebut, saya mengajukan suatu hipotesa yang distrukturkan masuk ke dalam kerangka cerita Bajug Anggakara, bahwa dua wilayah tersebut berada dalam interaksi yang intens, dan memilih pihak yang aktif dalam interaksi itu ada pada pihak Bhumi Galuh yang berupaya masuk untuk menguasai atau mencengkramkan kekuasaan di Bhumi Mataram. Mengapa, Bhumi Galuh yang “datang” ke Bhumi Mataram, bukan sebaliknya Bhumi Mataram “datang” ke Bhumi Galuh. Ada beberapa alasan mengapa Bhumi Galuh “mendatangi” Bhumi Mataram.

Pertama, ada semacam “dendam” dari penguasa di Bhumi Galuh pada Bhumi Mataram. Dendam yang tertanam sangat dalam dan bersumber pada serangkaian peristiwa yang terentang panjang. Yakni, sejak Sanjaya mengklaiam berkuasa di Bhumi Mataram (717-746 M), di mana Sanjaya menyatakan diri sebagai pendiri sebuah wangsa, padahal Sanjaya sangat mungkin memiliki kaitan darah dengan Bhumi Galuh (Sanjaya adalah anak dari Sanna, penguasa Bhumi Galuh periode 710-717 M). Dengan menyatakan diri sebagai pendari wangsa, Sanjaya “memutus” atau menyangkal keterkaitan dirinya dengan Bhumi Galuh. Ia menyatakan dirinya lepas dan berdiri sendiri sebagai pendiri trah penguasa di Bhumi Mataram. Di mata Bhumi Galuh, ulah Sanjaya tersebut sangat mungkin dimaknai sebagai suatu penghianatan atau bahkan penistaan…. Bukankah demikian??? Penistaan terus berlanjut dengan perbuatan penguasa-penguasan Bhumi Mataram selanjutnya yang mengirimkan kekuatan menguasai Bhumi Galuh… termasuk oleh Raka i Panangkaran (760—775 M)…. diikuti oleh Raka i Pikatan (833—856 M)…. dan juga oleh Dyah Balitung (898 – 910 M)… cukup panjang, bahkan sangat panjang dari periode 717 hingga 910 M, Bhumi Galuh menerima perlakukan yang “melukai hati” yang diterima dari penguasa-penguasan Bhumi Mataram. Ada alasan cukup bagi Bhumi Galuh untuk melakukan pembalasan atas perlakukan yang diterima dari penguasa Bhumi Mataram.

Kedua, selepas Dyah Balitung tidak lagi berkuasa, di mana kekuatan Bhumi Mataram merosot tajam akibat terjadinya persaingan dan perebutan kekuasaan di atas tahta Bhumi Mataram. Mpu Daksa pun kemudian naik tahta, namun bisa dikatakan tidak sepenuhnya berkuasa atas Bhumi Mataram. Ini dibuktikan dengan tidak beraninya Mpu Daksa menunjuk seorang putera mahkota (calon pengganti dirinya). Dalam pemerintahan Mpu Daksa, penunjukkan putera mahkota merupakan masalah sensitif, yang apabila dilakukan dapat membangkitkan perlawanan dari sekutu utamanya (kemungkinan Rakai Gurunwangi) yang mendukung dirinya meraih tahta Bhumi Mataram. Jelas, ini mengungkapkan ketidakpenuhan dari Mpu Daksa berdiri sebagai penguasan Bhumi Mataram. Dengan kata lain, di atas kekuasaan Bhumi Mataram ada persaingan setidaknya antara Mpu Daksa dengan sekutu utamanya (Rakai Gurunwangi).

Tanpa gelar putera mahkota, kemudian Dyah Tulodhong tiba-tiba didapuk sebagai penguasan Bhumi Mataram. Memang Dyah Tulodhong disebut-sebut menikahi puteri Mpu Daksa… dan karena pernikahan itu ia naik tahta. Anggapan ini sangat sederhana mengingat konstelasi kekuasaan saat itu. Sang mertua saja begitu berhati-hati, bahkan tidak berani menetapkan seorang putera, ini kok tiba-tiba (setelah delapan tahun Mpu Daksa bertahta) seorang menantu “berani” menyatakan diri sebagai raja menggantikan sang mertua…. bagaimana sikap sekutu utama sang mertua “bisa begitu saja menerima, tanpa perlawanan” Dyah Tulodhong berkuasa di Bhumi Mataram. Ini bisa terjadi apabila, sekutu utama itu telah menjadi sangat lemah sehingga tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Hipotesa ini kurang kuat, sebab tidak ada tanda-tanda itu terjadi pada periode pemerintahan Dyah Tulodhong. Sebaiknya, Dyah Tulodhong hanya sebentar berkuasa… lima tahun saja (919 – 924 M), kemudian jatuh terguling di tangan Dyah Wawa.

Yang agaknya lebih mungkin terjadi, bahwa Dyah Tulodhong berkuasa di Bhumi Mataram lebih karena dukungan “sekutu utama Mpu Daksa” … yang bersama-sama dengan Dyah Tulodhong sendiri memutus kekuasaan Mpu Daksa, sang mertua. Bagaimana persekutuan Dyah Tulodhong dengan “sekutu utama Mpu Daksa” terhadap penghentian kekuasaan Mpu Daksa bisa dikonstruksi?

Dyah Tulodhong selaku menantu Mpu Daksa tentu menginginkan gelar putera Mahkota jatuh ke tangannya, namun itu tidak terjadi selama Mpu Daksa berkuasa… tidak terjadi, seperti sudah dikatakan sebelumnya, karena ada ketakutan di pihak Mpu Daksa terhadap sekutu utamanya yang bisa melakukan perlawanan jika ia menetapkan putera mahkota, yang bukan keturunannya… padahal Mpu Daksa tidak dikaruniakan anak laki-laki hanya perempuan dan itu dinikahkan dengan Dyah Tulodhong… Keadaan ini tentu membentuk efek psikologis pada Dyah Tulodhong… hasrat berkuasa (sangat alamiah atau naluriah dimiliki setiap insan) yang bertumpuk menggunung, namun tersumbat tidak bisa dilepaskan karena tidak juga dinyatakan sebagai putera mahkota. Ini menjadi pemicu utama untuk menerima secara terbuka lebar-lebar, siapa pun yang menyodorkan bagi dirinya berpijak sebagai penguasan Bhumi Mataram.

Di sisi lain, “sekutu utama Mpu Daksa” pun merasa “cemas” dan terancam karena tiadanya kepastian siapa yang kelak bertahta menggantikan Mpu Daksa sebagai penguasa Bhumi Mataram. Tentu sekutu utama ini mengkehendaki sebisa mungkin mereka yang mengambil tahta atas Bhumi Mataram setelah Mpu Daksa. Tetapi itu, suatu hal yang mustahil terjadi selama Mpu Daksa masih berkuasa. Karena mustahil, sekutu utama ini sedikit “melonggarkan kehendak”, tidak apa-apa penerus itu tidak berasal dari dalam diri sendiri melainkan dari pihak Mpu Daksa, asalkan penerus itu masih mengakui keberadaan mereka sebagai sekutu utama sebagaimana Mpu Daksa telah memperlakukan mereka sebelumnya. Untuk memastikan hal terakhir ini, sangat mungkin “sekutu utama Mpu Daksa” bertindak proaktif dengan merangkul Dyah Tulodhong sebagai sekutu untuk melawan Mpu Daksa.

Dyah Tulodhong bertemu dengan “sekutu utama Mpu Daksa” bagaikan “botol ketemu tutup” atau seperti “gayung bersahut”. Sangat klop, satu sama lain saling membutuhkan. Dua-duanya saling memberi dan mengisi harapan serta janji di balik kepentingan masing-masing… namun dengan satu tujuan yang sama, yakni: menyingkirkan Mpu Daksa dari atas tahta Bhumi Mataram. Dan itu terjadi selepas delapan tahun Mpu Daksa bertahta.

Singkatnya, pada tahun kedelapan berkuasa Mpu Daksa digantikan oleh Dyah Tulodhong, menantunya sendiri. Dyah Tulodhong menggantikan Mpu Daksa tidak dengan terlebih dahulu menjabat sebagai putera mahkota. Ini artinya Dyah Tulodhong sampai pada puncak tahta Bhumi Mataram tidak dengan cara atau mekanisme legal formal konstitusional… lalu? Lewat perbutan kekuasaan dengan dibantu oleh sekutu yang sebelumnya juga menjadi sekutu Mpu Daksa saat meraih tahta Bhumi Mataram… menantu dan sekutunya telah melawan dirinya sendiri dan melengeserkan dirinya dari tahta Bhumi Mataram.

Sudah tentu, hilangnya Mpu Daksa dari atas tahta Bhumi Mataram, memperkuat posisi dan kedudukan “sekutu utama Mpu Daksa” sekalipun kekuasaan puncak Bhumi Mataram masih berada di tangan Dyah tulodhong, menantu Mpu Daksa. Nah, saat Dyah Tulodhong berkuasa kekuatan “sekutu utama Mpu Daksa” semakin mendapat pengaruh kuat, jauh lebih kuat dibandingkan pengaruh mereka saat Mpu Daksa berkuasa. Kekuatan “sekutu utama Mpu Daksa” sekalipun tidak mengemuka namun secara nyata memiliki pengaruh yang kuat, dan bisa dibayangkan jauh lebih kuat dari pengaruh kekuatan Dyah Tulodhong sendiri yang merupakan raja Bhumi Mataram.

***

Kembali ke Bhumi Galuh yang dikatakan sudah sejak lama ‘menyimpan bara di hati’ terhadap Bhumi Mataram, apa yang terjadi di Bhumi Mataram tentu tidak lepas dari pengamatan penguasa di sana. Saat itu, Bhumi Galuh berada di bawah kekuasaan Rakeyan Jayagiri atau Prabu Wanayasa (916-942 M) yang di tahun 920 M baru berkuasa empat tahun. Ia berkuasa dengan menyingkirkan kakaknya sendiri, Rakeyan Kemuning Gading atau Prabu Pucukwesi (913 – 916 M). Sudah menjadi tradisi di Bhumi Galuh, seorang naik merebut tahta selalu didukung oleh para satriya dan senopati. Salah satunya terjadi saat Rakeyan Windusakti naik tahta menggantikan Prabu Darmaraksa yang digulingkan oleh para satriya dan senopati Bhumi Galuh. Rakeyan Windusakti tidak lain ayah dari kakak beradik Rakeyan Kemuning Gading dan Rakeyan Jayagiri. Seperti ayahnya, Rakeyan Jayagiri naik tahta menggulingkan Rakeyan Kemuning Gading atau Prabu Pucukwesi dengan bantuan para satriya dan senopati Bhumi Galuh.

Memang tidak jelas apa yang sebenarnya terjadi dalam perbutan kekuasaan itu. Tidak ada keterangan sama sekali akan hal itu. Nah, ini menjadi kesempatan untuk mengisi ruang gelap itu dengan satu hipotesa yang kemudian menjadi bagian dalam cerita Bajug Anggakara. Yakni, penggulingan kekuasaan Prabu Pucukwesi oleh adiknya, Rakeyan Jayagiri, karena raja itu tidak memiliki visi atau ambisi untuk memperluas Bhumi Galuh… dan terutama memadamkan ‘bara api’ yang lama tersimpan di dada atas Bhumi Mataram. Raja itu tidak ‘berbuat sesuatu’ atas Bhumi Mataram yang telah begitu lama melukai hati Bhumi Galuh. “Berbuat sesuatu” sebagai pembalasan yang pantas diterima Bhumi Mataram. Pembalasan yang terus didesakkan dan menjadi dorongan utama pengabdian satriya dan senopati di Bhumi Galuh.

Desakan satriya dan senopati di Bhumi Galuh untuk ‘menghukum’ Bhumi Mataram mendapat kesempatan saat kekuasaan Bhumi Mataram menjadi lemah. Yaitu, saat Dyah Tulodhong berkuasa di bawah bayang-bayang persaingan sekutunya. Persaingan yang sebenarnya tertuju pada satu titik: tahta Bhumi Mataram.

***

Peristiwa kekuasaan tidak hanya milik tlatah Yawadwipa. Jauh di seberang lautan ada konflik lain yang terseret hingga ke Yawadwipa…. konflik dari daratan Cina…. Saat itu (920-an Masehi) terjadi benturan kekuasaan di antara kekuatan-kekuatan yang sebelumnya bersekutu menggulingkan Dinasti Tang (618–907 Masehi). Selepas Dinasti Tang runtuh, kekaisaran Cina tercabik-cabik oleh perpecahan politik mulai tahun 907 Masehi. Di antara kekuatan yang bersaing adalah lima penguasa yaitu: Liang, Tang, Jin, Han, dan Zhou. Dikenal sebagai lima dinasti yang terus bersaing menguasai jantung wilayah kerajaan lama di utara Cina. Selain lima penguasa tadi, di Cina juga muncul sepuluh negara kecil, yaitu: Wu, Wuyue, Min, Nanping, Chu, Tang Selatan, Han Selatan, Han Utara, Shu Awal, dan Shu Akhir. Mereka berkuasa di selatan dan barat Cina.

Selalu ada pemenang dan yang tersingkir dalam setiap peristiwa kekuasaan. Begitu pun di Cina.  Salah seorang keturunan Dinasti Tang segera menjadi fugitive (pelarian) yang berusaha melepaskan diri dari kejaran lawan-lawan politik dinasti dari mana ia berasal. Bukan tanpa alasan, ia melarikan diri ke Yawadwipa. Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, Cina dan Yawadwipa memiliki hubungan dagang, ekonomi dan budaya sejak lama. Kedua, kekuatan di Yawadwipa relatif kuat dibandingkan dengan kekuatan di negeri lain seperti Campa, Khemer atau kerajaan-kerajaan lain. Mengejar dengan armada perang sama halnya dengan mengajak perang kerajaan Yawadwipa (Bhumi Mataram). Ketiga, Cina dan Yawadwipa terbentang jauh. Pelaian ke Bhumi Mataram di Yawadwipa merupakan pelarian yang aman…. pertanyaannya: bagaimana jika kekuatan pengejar juga datang ke Bhumi Mataram? Konflik pun menjadi bertumpuk melintas menembus batas-batas negeri.

***

Di balik penalaran di atas cerita Bajug Anggakara dibangun dan dikerangkakan serta dikembangkan untuk menelisik the fact of power dengan pusat pada tahta Bhumi Mataram di abad 10. Terlibat di dalamnya tokoh-tokoh yang pernah ada dan hidup dengan tindakan yang berpengaruh di Yawadwipa…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s