Geger di Wrahas Kartika (2 – Tamat)

“Kecil…kecil…kecil… hoopp.” Tiga mata dhadhu pun bergulir melemah… bergoyang-goyang… tidak juga berhenti, namun bergoyang-goyang dengan tiga mata dhadhu masing-masing tertera angka tiga di sisi paling atas. Tepat sembilan jumlah seluruh angka dari tiga dhadhu, bila berhenti pada saat itu. Akan tetapi, dhadhu belum juga berhenti, masih bergoyang-goyang. Seperti sebelumnya, Mandrakanta dan Barisan Awan berdiri di sisi meja dhadhu etoh. Kini mereka tidak sekedar berdiri melainkan memegang meja itu mengalirkan tenaga mempengaruhi dhadhu yang kini bergoyang-goyang.

“Hooopla… plok… plok… plok… platak… platak…” Tiba-tiba tangan Mandrakanta melepaskan meja dan bertepuk tangan tiga kali. Dua dhadhu melesat cepat keudara dan seperti dua tangan anak muda itu bertemu saat bertepuk tangan, demikian dua dhadhu yang melesat bertabrakan kemudian jatuh terbelah di atas meja dengan kedudukan bagian yang terbelah menghadap ke atas… empat kepingan dhadhu yang terbelah, menghadap ke atas tanpa ada angka.

“Aku menang… aku menang… lihat dhadhu di meja adalah angka kecil… hanya enam.” Di atas meja memang terlihat angka enam.. angka enam dari satu dhadhu yang masih utuh… dhadhu yang sebelumnya dilempar oleh Mandrakanta. Jelas, Barisan Awan termakan siasat Mandrakanta. Saat dhadhu hanya bergoyang-goyang untuk berhenti pada angka tiga, Mandrakanta saat itu mengerahkan tenaga untuk menahan agar dhadhu berhenti sementara Barisan Awan berupaya mendorong agar dhadhu tidak berhenti… Mandrakanta menahan, Barisan Awan mendorong… akibatnya dhadhu bergoyang-goyang… tertahan sekaligus terdorong. Namun, tiba-tiba anak muda itu melepaskan tenaga penahan sekaligus menarik mencelatkan dua dhadhu… jelas dua dhadhu itu begitu mudah mencelat. Mencelat akibat tarikan anak muda sekaligus dorongan tenaga Barisan Awan… setelah mencelat sekejab saja dua dhadhu membenturkan satu sama lain bersamaan dengan tepuk tangan yang dilakukan anak muda…tiga kali… sehingga dua dhadhu itu terbelah dan jatuh di atas meja berupa empat kepingan dengan sisi terbelah menghadap ke atas. Tanpa tertera angka pada masing-masing kepingan.

“Bedebah… kau curang.” Seorang dari Barisan Awan menyerang… gerakannya sangat cepat tidak dapat diikuti mata… dengan sasaran berjarak sangat dekat.

“Paman Prabangkara, aku menang…” Anak muda itu membalikkan tubuh ke arah Bre Prabangkara , sekaligus mendekatkan dirinya ke arah penyerang… begitu dekat hingga menempel…sehingga serangan itu luput karena sasaran telah bergerak tidak kalah cepat menempel kepada yang menyerang. Tiba-tiba anak muda itu berlari kencang keluar.
“Haaa…. Haaa… Haaa… akhirnya malam ini aku menang… aku menang… aku menang…” Di luar Mandrakanta berhenti dua tumbak dari pintu utama Wrahas Kartika… menari-nari dan berteriak-teriak… benar-benar bajug, tengah malam buta menari dan berteriak.
“Kurang ajar, engkau mempermainkan kami.” Serentak tiga orang dari Barisan Awan menyergap… tubuh mereka seketika berselimut kabut… terdengar serangan menderu ke arah anak muda yang masih menari-nari… tidak hirau bahaya mengintai datang.
“Awas serang….” Peringatan sia-sia, karena sebuah pukulan telak telah menghantam tubuh bagian belakang anak muda.
“BUKKK… BRAKKK” Anak muda itu terpental dua tumbak menabrak sebuah wandé (toko atau warung) berdinding kayu di depan Wrahas Kartika dan menghilang di antara reruntuhan… empat bayangan berkelebat dari dalam Wrahas Kartika.
Dua ke arah wandé yang terhantam tubuh anak muda… Dua bayangan yang mencelat menuju wandé, tidak lain Senopati Ramaniya dan Bre Prabangkara. Mereka langsung menerobos lubang dinding wandé yang menganga lebar tertembus oleh tubuh Mandrakanta. Wajah mereka dibayangi oleh ketakutan dan kengerian yang mendalam. Ngeri atas apa yang baru saja dilihat. Pukulan telak Barisan Awan yang telah melontarkan deras Mandrakanta.
Sementara itu, dua bayangan yang juga berkelebat bersamaan terlihat mencegat Tiga lelaki Barisan Awan. Dua gadis buruk rupa berdiri raut muka dan lagak tubuh tidak senang. Tidak senang atas apa yang dilakukan Barisan Awan terhadap anak muda lawan mereka bermaian dhadhu etoh.
“Tidak tahu malu, kalah ya kalah… sudah kalah malah main keroyok… tidak tahu diri.” Seorang dari Gadis Gila Kembar menegor keras Barisan Awan.
“Lagi-lagi bocah edan… minggir kau berdua.” Peringatan datang dari seorang Barisan Awan. Orang yang telah memukul telak Mandrakanta. Di antara tiga orang itu masih terlihat kabut putih sekalipun sudah agak surut dibandingkan sebelumnya.
“Lebih baik edan dibanding kalian… sudah tua tetapi bodoh… bodoh tidak bisa bedakan mana yang asyik untuk ditepati… mana yang memang harus diingkari… bukankah menelan utahan karena kalah main dhadhu etoh itu asyik untuk ditepati… dasar bodoh…” Tiga wajah Barisan Awam memerah seketika. Memerah murka. Murka dikatakan bodoh. Lebih murka lagi manakala ejekan bodoh itu datang dari gadis edan.
“SUITTT… SUITTT…”
Dua serangan pukulan dilepaskan oleh Barisan Awan mengarah ke dua gadis edan. Tergesa-gesa, dua gadis edan itu menangkis. Tapi, mana kuasa dua gadis itu menahan pukulan seorang dari Barisan Awan. Dua tubuh molek milik gadis buruk rupa meluncur… melayang ke arah wandé di mana sebelumnya tubuh Mandrakanta telah tertelan di balik reruntuhan. Wajah dua gadis terlihat semakian buruk saat pengaruh pukulan yang telah ditangkis mereka, tidak mampu diredam sehingga menyusup ke dalam titik-titik simpul syaraf penting untuk mengkoordinasi gerakan anggota tubuh…dua wajah buruk rupa menegang berupaya mengendalikan pengaruh pukulan Barisan Awan yang masuk menyusup.
Dua tubuh gadis itu terus melayang, namun beberapa saat lagi akan membentur dinding wandé, ada sosok lain yang melayang dari dalam wandé dan sosok itu segera menangkap dua gadis bersamaan. Di kiri dan di kanan. Merangkul perut masing-masing gadis yang segera telah mengembalikan wajah gadis itu seperti semula… tetap buruk tapi tidak terlihat tegang.
“Haaa… Haaa… Haaa… sudah menang, kini dapat dua bidadari… Cup.. Cup.. HOAAKK… HOAAKK… Tidak salah, sosok itu adalah Mandrakanta. Anak muda itu menangkap dua gadis yang akan terbentur wandé, menangkap gadis itu pada perut masing-masing… lalu cepat mengecup bibir dua gadis… langsung muntah manakala tahu rupa gadis yang diciumnya… begitu buruk.
“HOAAKK…PUIH…PUIH…” Anak muda itu membungkuk-bungku dan meludah-ludah saat mendarat ringan satu tumbah di depan Barisan Awan. Ia meludah-ludah sambil mengusap-usap bibirnya seakan-akan membersihkan kotoran yang melekat di sana. Terlihat jelas bekas putih, jejak sebuah kepalan tangan, pada punggung anak muda… punggung kiri yang tidak tertutup selempangan kain penutup tubuh bagian atas. Di seputar kepalan putih pun masih tersisa tebaran yang samar-samar masih menyisakan berkas-berkas putih.. pengaruh pukulan Barisan Awan pada punggung anak muda.
“Mati aku. Bukan bidadari… tapi hiiiiiii… hiiiiiii… hiiiiiii…” Kepala anak muda itu bergoyang… tiga kali bergoyang seperti biasa dilakukan oleh orang yang jijik pada sesuatu. Bersamaan dengan goyangan tubuhnya, segera bercak-bercak putih menghilang, sementara jejak kepalan tangan menjadi samar… terus samar dan akhirnya sirna. Hanya beberapa orang yang memperhatikan itu, khususnya Senopati Ramaniya dan Bre Prabangkara.. yang saat itu tepat berdiri tidak jauh di belakang anak muda yang berdiri di antara dua gadis gila.
Seluruh tingkah Mandrakanta menjadi perhatian orang-orang di sana. Tingkah bajug… lepas dari tata krama… ugal-ugalan. Bajug atau ugal-ugalan? Tidak demikian di mata dua gadis buruk rupa dan Barisan Awan. Mereka semua terkesiap. Gadis gila merasakan saat anak muda itu meraih perut masing-masing, seketika tekanan pengaruh pukulan Barisan Awan menjadi sirna…tidak lagi ada tekanan dingin menggigit yang meresap dan segera akan menyerang jantung dan menghentikan organ itu dalam kebekuan. Mereka sadar pelukan perut telah meluputkan dari kematian. Tidak jauh berbeda dengan Barisan Awan, dalam keadaan terkesiap, tidak disadari dua mata mereka melotot lebar. Pukulan yang begitu telak mendarat di punggung seharusnya menewaskan anak muda itu seketika. Pukulan itu adalah pukulan Kawanda Urumi (Gelombang Awan), satu bagian dari tiga gelar Yamani Kawanda (Awan Neraka), jurus Barisan Awan yang sangat ditakuti di rimba hijau.
“Siapa anak muda itu?” Benak Barisan Awan penuh tanda tanya. Begitu juga dengan dua gadis gila, yang tidak hanya bertanya-tanya tetapi juga tertunduk malu… malu atas apa yang telah dilakukan oleh anak bajug itu… mengecup bibir mereka di depan orang-orang banyak… gadis gila pun telah dibuat malu oleh ulah anak bajug… betul-betul bajug, bahkan bajug bagi orang yang disebut sebagai gila… Dhampit Baring Kanya…Gadis Gila Kembar.
“Mana Santika… mana Laksita… aku ingin mengatakan pada dua bidadari itu, malam ini aku telah menang dhadhu etoh.” Anak muda itu celingukan mencari dua gadis biyada yang semula menemaninya bermain dadu. Apa yang dilakukan Mandrakanta membuat delapan blondhot sumringah. Delapan blondhot saling pandang satu sama lain, perlahan melangkah surut menjauh dari Pangeran Layang Taksaka. Berkumpul dan berbicara berbisik-bisik.
“Dia orangnya… Bajug Anggakara… Pahlawan tanpa aturan… raja urakan.” Salah seorang dari delapan blondhot menyebut gelar bagi anak muda. Anak muda yang sejak semula menarik perhatian mereka, khususnya empat blondhot yang lebih dahulu menampakkan diri di Wrahas Kartika.

Tidak seperti delapan blondhot, Barisan Awan terlihat semakin murka. Lima orang itu merasa dipermainkan… dipermainkan habis-habisan oleh anak muda… anak muda bajug. Lima Barisan Awan kini berdiri berbaris merapan satu sama lain.

“Siapakah kau anak muda… jangan terus bermain-main… tunjukan darimana engkau menyadap kekuatanmu.” Seorang Barisan Awan mencoba mencari tahu asal usul anak muda itu. Anak muda aneh yang telah melakukan permainan ugal-ugalan.

“Aku? Tentu aku adalah Etoh Katong (Raja Judi)… etoh katong yang telah mengalahkan paman sekalian dalam dhadhu etoh…” Berlagak jumawa Mandrakanta mengatakan dirinya sebagai raja judi. Satu tangan bertolak pinggan, satu lainnya menepuk-nepuk dada.

“Bedebah…” Dua orang dari Barisan Awan bergerak, mendahului mereka tebaran kabut putih kembali menyelimuti… tebaran kabut yang kian menebal seiring dengan pergerakan yang dilakukan dua orang Barisan Awan. Arah gerakan mereka langsung tertuju pada anak muda yang berdiri di antara gadis gila. Tentu hanya, dalam hitungan kejaban mata saja, serangan dua orang Barisan Awan akan tiba pada sasarannya.

“Ayo kalian saja yang menemani aku bermain… agaknya Santika dan Laksita sudah tidak menyukai permaian ini.” Anak muda itu kembali meraih perut langsing milik dua gadis gila di sampingnya… sementara kaki kirinya di angkat lurus ke depan dan membuat beberapa putaran, yang langsung membentur serangan dua orang Barisan yang sudah tiba pada sasarannya. Sementara berada dalam rangkulan anak muda, dua gadis gila kembali merasakan serangkaian aliran tenaga merasuk pada perut mereka. Aliran yang sama mereka rasakan saat mereka terbebaskan dari tekanan pengaruh pukulan seorang Barisan Awan.

“DESSS… DESSS…”

Dua benturan telah bertumbuk… berisi dua jenis tenaga… tenaga yang keluar dari putaran kaki lurus anak muda dan tenaga dari dua orang Barisan Awan… tenaga Kawanda Urumi (Gelombang Awan). Sudah tentu tubuh anak muda yang memeluk dua gadis gila terlontar ke belakang, berjungkil balik. Dua orang Barisan Awan pun terlihat telah terdorong surut tiga langkah. Dua orang itu tidak segera melanjutkan serangan, tetapi saling memandang… penuh keheranan.

“BUKKK.. BUKKK.. plok… plok… plok…”

Dua tubuh terbanting di tanah… tubuh itu terbanting karena anak muda melepaskan begitu saja pelukan pada perut mereka… melepaskan untuk bertepuk tangan. Saat itu, anak muda berjungkil balik menciptakan jarak satu setengah tumbak dari dua orang Barisan Awan … namun ia melepaskan begitu saja pelukannya pada dua gadis saat belum menginjakkan kaki mendarat ke tanah… masih melayang di udara saat berjungkil balik… karena masih di udara tentu saja tubuh dua gadis itu langsung meluncur ke tanah… jatuh bergelebuk seperti cepedhak (buah sejenis nangka berukuran lebih kecil) jatuh dari pohon.

“Waduh… Waduh… maaf… maaf…” Anak muda itu berputar-putar mengelilingi dua gadis yang terjerembab di tanah. Mata dua gadis itu melotot lebar… marah… marah karena merasa dijadikan bagian dari permaianan anak muda bajug.

“Ah kalian di sini saja… kalian sudah lelah… biar aku saja yang bermain-main.” Anak muda itu berkata kepada dua gadis gila lalu melangkah mendekati dua orang Barisan Awan yang sudah didampingi oleh tiga Barisan Awan lainnya. Saat anak muda itu beranjak pergi, dua gadis gila itu segera berdiri dan menjejag-jejagkan kaki… kesal karena ditinggal, tidak diikutkan dalam permainan.

“UUUIII… edan… sangat edan, tidak ada yang lebih edan sepanjang aku pernah lihat… PLAAKK.” Pengemis Teratai Merah bersorak kagum atas apa yang disaksikannya… sorakan itu diakhiri sengan tabokan keras pada punggung Tuak Lelap. Yang ditabok keras melotot, tapi hanya sesaat kemudian tersenyum. Seperti Mata Tuak Lelap yang tadi melotot, demikian juga Bre Prabangkara telah melototkan dua matanya… tidak percaya dengan apa yang dilihat.
“Dari mana bajug itu mendapatkan kekuatannya?” Jelas mengemuka raut muka keheranan dari Bre Prabangkara… raut muka heran ditambah dengan dua bola mata yang terbelalak lebar. Apa yang diperlihatkan oleh Bre Prabangkara, juga tampil pada wajah Senopati Samagata dan Pangeran Layang Taksaka. Sekali lagi, hanya Senopati Ramaniya yang terlihat senyum… senyum tanpa membekaskan keheranan di wajahnya.

“Kakang Agnimaya, anak bajugmu … memang benar-benar bajug… “ Dalam hati Senopati Ramaniya kata-kata itu menggema.

Di belakang Bre Prabangkara, Senopati Ramaniya dan Senopati Samagata telah bergabung puluhan prajurit Mataram… lima enam puluh prajurit yang bermarkas di Niroga Praja. Dengan isyarat, Bre Prabangkara tidak mengizinkan mereka bertindak gegabah… bertindak hanya apabila ia memerintahkan.

Saat itu, di antara dua kerumumanan, Mandrakanta melangkah dan berhenti setengah tumbak di hadapan Barisan Awan yang telah lengkap berbaris. Mata anak muda itu memandang satu persatu wajah Barisan Awan… memandang lima wajah yang kaku mengeras… namun dibalas oleh anak muda dengan raut muka bajug… cengengesan… mesam-mesem.

Tiga orang Barisan Awan maju selangkah, dua lainnya tetap tidak beranjak. Jelas mereka sedang mempersiapkan tata barisan… bertempur bersama dalam gerak tertata. Namun mereka belum juga bergerak. Tetap berdiam. Menyelidik dan menilai asal usul anak muda yang terus cengengesan di depan mereka. Barisan Awan memiliki penilaian lewat apa yang telah terjadi. Siapa pun anak muda itu? Dari mana asalnya? Tidak penting. Yang jelas, anak muda itu telah membuat mereka geram dan terhina… lewat permaianan dhadhu etoh, dan terutama lewat sebuah pukulan Kawanda Urumi yang telak mengena punggung… namun pukulan itu tidak berpengaruh pada diri anak muda. Selain itu, dua serangan Kawanda Urumi pun begitu saja terhapus oleh sapuan kaki kiri yang lurus memutas. Jadi, siapa pun anak muda itu tidaklah penting. Yang penting, bagaimana memberangus anak muda itu untuk menghapus dan membayar lunas kegeraman dan penghinaan.

Segera di sekeliling Barisan Awan telah tertutup kabut putih, sangat tebal dan menghalangi pandangan… menghalangi pandangan atas apa yang dilakukan oleh lima orang Barisan Awan di balik tebalnya kabut putih.

“Ah… Barisan Awan akan segera menggelar Kawanda Urumi (Gelombang Awan) bersama-sama, tidak seperti sebelumnya mereka menggelar Kawanda Urumi secara utuh.” Bre Prabangkara berdesah penuh kecemasan.

“SREETTT… SREETTT… SREETTT… SREETTT…”

Anak muda itu bergerak sangat cepat mendahului Barisan Awan… ia tidak bergerak lurus melainkan berliku-liku… ke kiri dan ke kanan… tangan kanan anak muda itu terbuka lebar merentang sedangkan tangan kirinya tersilang dengan telapak ditaruh merapat pada dada… sebuah gerakan pembuka apa yang telah disadap oleh anak muda itu… dua matanya… dua mata yang tidak lagi terlihat liar, melainkan memandang tajam tertuju kumpulan kabut putih tebal di mana lima orang Barisan Awan berada di dalamnya. Dalam sekejab tubuh anak muda itu terbenam ke dalam kabut putih… terbenam penuh sama sekali tidak terlihat.

Beberapa saat orang-orang yang berada di sekitar pertarungan hanya menyaksikan kabut tebal putih. Sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam sana. Namun, perlahan kabut putih itu menyusut, tidak lagi setebal sebelumnya… terus menipis menyusut sehingga samar-samar dapat dilihat bayang-bayang anak muda yang bergerak lincah menghindari gelombang serangan Barisan Awan. Dalam gerakannya, anak muda itu tidak sekedar menghindar, melainkan menghalau kabut putih tebal yang diciptakan oleh Barisan Awan. Terbukti, anak muda itu sepenuhnya telah mengusir kabut tebal ciptaaan Barisan Awan.

Kini tampak jelas lima orang Barisan Awan telah mengurung anak muda itu. Lima Barisan Awan menyerang bergelora dari lima penjuru. Masing-masing menyerang dengan pukulan, tamparan, tebasan, tendangan… serangan itu datang menggelombang. Menghadapi serangan itu anak muda bergerak mumbul-mumbul, seperti anak-anak mumbul-mumbul di atas bale-bale anyaman bambu… terus mumbul sambil berputar atau menekuk tubuh luwes dan lentur..mengandalkan kecepatan dan keluwesan gerak anak muda itu menghindari serangan Barisan Awan.

Selalu gagal mendaratkan serangan pada lawan, baik serangan pukulan langsung maupun pukulan berjarak hawa dingin Gelombang Awan, telah membuat Barisan Awan semakin geram. Sejauh ini, pukulan langsung Barisan Awan dimentahkan dengan kecepatan dan kelenturan sementara pukulan berjarak hawa dingin sirna begitu saja pada jarak dua tiga jengkal dari tubuh anak muda… hawa dingin Gelombang Awan tidak dapat menembus kekuatan pelindung yang diterapkan lawan… kekuatan pelindung yang tidak diketahui, namun jelas-jelas telah meredam tuntas pengaruh serangan berjarak Barisan Awan.

Kegagalan yang dialami segera memancing kemarahan Barisan Awan, serentak lima orang itu mengubah tata gerak. Perubahan yang terjadi begitu tiba-tiba dan mengagetkan anak muda. Serangan Barisan Awan tidak lagi menderu melainkan meledak-ledak… membawa hawa panas yang bertolak belakang dari sifat serangan sebelumnya. Selain sifat panas, gerakan yang kini dilakukan oleh Barisan Awan juga berubah dalam motif… dalam maksud… tidak lagi memburu dan mengejar seperti gelar Gelombang Awan… kini mereka justru membiarkan menunggu, mengurung, menggiring, menjepit atau menjebak untuk kemudian membidik lawan pada posisi tertentu lalu melepaskan serangan. Dilakukan secara bersama dengan peran masing-masing. Apa yang dilakukan Barisan Awan persis seperti yang dilakukan oleh kawanan pemburu… kawanan yang memainkan peran masing-masing untuk melumpuhkan buruannya. Suatu kerjasama yang sangat apik penuh variasi dan jebakan, karena masing-masing orang dari Barisan Awan bisa begitu saja bertukar peran…pengiring, penjebak, penjepit, pembidik dan penyerang… bertukar tanpa aba-aba atau isyarat, karena mereka telah begitu menyatu dalam memainkan gelar itu… gelar yang meledak-ledak.

“Kawanda Jedhot (Letusan Awan)…” Entah siapa di antara delapan blondhot yang telah melepaskan nama gelar yang dimainkan oleh Barisan Awan.

Serangan mereka jauh lebih berdaya hasil…menyergap lawan pada posisi yang diinginkan… tidak menyerang pada sembarang posisi atau di mana posisi lawan berada… Mituduh Ragab (serangan terbidik atau terarah)… menyerang lawan pada posisi yang diingin setelah melewati upaya menggiring, mengurung dan menjebak… Mituduh Ragab
merupakan inti dan kekuatan dari gelar Kawanda Jedhot atau Letusan Awan… bagian lain dari tiga gelar Yamani Kawanda (Awan Neraka).
“BLAARRR… BLAARRR…”

Dua ledakan langsung menjadi hasil dari gelar Letusan Awan. Ledakan karena anak muda yang diserang tidak dapat lagi menghindar. Harus membenturkan diri dengan seorang atau dua orang Barisan Awan yang berperan sebagai pembidik atau penyerang. Mandrakanta tidak lagi seleluasa sebelumnya, bisa mumbul-mumbul menghindari serangan yang memburunya.

“BLAARRR… BLAARRR… BLAARRR… BLAARRR…”

Semakin sering ledakan terdengar… ledakan akibat benturan yang tidak mungkin dielakkan oleh Mandrakanta jika dirinya tidak ingin termakan telak oleh pukulan Barisan Awan. Benturan itu memang sejauh ini tidak melukai Mandrakanta, namun sangat merugikan dirinya, apalagi terasa semakin menyengat panas dan datang susul menyusul… demikian Mandrakanta terpaksa meladeni benturan dengan satu atau dua orang sekaligus… lalu menyusul kemudian benturan dengan yang lain lagi… terus hal itu berlangsung. Sudah tentu keadaan ini menguras tenaga lawan… apalagi lawan yang hanya seorang.

“BLAAAAARRRRR…”

Sebuah ledakan jauh lebih keras berlangsung… ledakan yang terjadi akibat lima orang Barisan Awan secara bersamaan membenturkan serangan sekaligus. Tubuh Mandrakanta terpental jauh dan terbanting keras. Terhenti sejauh tiga tumbak dari arena laga. Tergolek di tanah.. diam tidak bergerak. Begitu pun lima orang Barisan Awan terlihat berdiri di tempatnya tidak bergerak. Lima orang itu terdiam mengatur dan mengendalikan pengaruh benturan tadi. Benturan yang telah mereka persiapkan bersama.. dengan hasil sesuai harapan mereka… membuat lawan terhempas… terkoyak bahkan luluh lantah bagian dalam tubuhnya… terkoyak karena tidak kuasa menahan gempuran Letusan Awan yang disarangkan bersama-sama secara serentak. Sekalipun, telah memenuhi harapan lima orang itu, ternyata benturan itu pun telah mendatangkan hasil di luar harapan… tidak menyangka benturan telah membuat ulu hati lima orang yang tetap berdiri bergolak keras… serasa ada desakan yang membludak ingin keluar… apa yang ingin membludak segera ditekan dan diredam. Untuk itu, lima orang Barisan Awan berdiri terdiam menahan golakan dari dalam…

Dua gadis gila melesat berbarengan ke arah tubuh anak muda yang tergolek diam di atas tanah, disusul oleh pejabat dan senopati utama dari Niroga Praja. Hanya karena jarak dua gadis gila lebih dekat, mereka tiba lebih dahulu. Langsung merangsek memburu tubuh Mandrakanta.

“Walaaahhhh… panas… panas…” Dua gadis gila mengibas-ibaskan tangan sesaat menyentuh tubuh Mandrakanta. Panas itu sangat menyengat hingga mereka urung menjamah tubuh yang tergolek terdiam.

“Ambil air… air.. cepat air…” Gadis gila berpipi dan berbibir tebal yang disebut-sebut bernama Sakwari. Dua gadis itu kalang kabut. Pejabat dan senopati utama dari Niroga Praja yang juga telah berada di sisi gadis-gadis itu hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“Lihat… ia masih hidup… kupingnya bergerak-gerak.” Teriak gadis gila lain yang disebut bernama Sakanti. Tentu saja, kata-kata gadis itu tidak dapat dipercaya, khususnya oleh Pejabat dan Senopati Utama dari Niroga Praja, yang juga berada dekat dengan tubuh anak muda yang terbujur tidak bergerak.

“Nakmas Mandrakanta…” Pejabat dan Senopati Utama dari Niroga Praja hampir bersamaan menyebut nama anak muda itu dengan suara bergetar… suara itu bergetar menyaksikan nasib buruk yang telah menimpa salah seorang putera dari kakak seperguruan mereka.

“Jangan mendekat… menyingkirlah… biarkan ia berdiri… ia akan berdiri… ia masih hidup karena kupingnya terus bergerak.” Sakanti kembali berujar tak keruan. Baik Sakwari dan Sakanti bersama-sama merapatkan tubuh di sisi tubuh Mandrakanta untuk menghalangi Pejabat dan Senopati Utama dari Niroga Praja yang ingin mendekati tubuh yang sama… tubuh Mandrakanta yang tidak bergerak… tidak bergerak dalam waktu yang cukup lama.

“Betul… aku juga melihat kupingnya bergerak-gerak.” Sambung gadis lain. Lagi-lagi kuping…

“Minggir kalian… biar aku lihat keadaan keponakanku.” Bentak Bre Prabangkara menjadi berang atas tingkah dua gadis gila. Sakwari dan Sakanti saling berpandangan, tahu siapa yang kini datang, lalu perlahan menyingkir. Bersama-sama dengan Bre Prabangkara, Senopati Ramaniya dan Senopati Samagata berjongkok mengulurkan tangan ingin menjamah memeriksa keadaan Mandrakanta.

“Biarkan gadis-gadis itu saja yang menjamahku Paman… biarpun mereka jelek-jelek dan gendheng, aku lebih duka disentuh oleh mereka… bagaimana pun mereka itu perempuan…” Kata-kata ngawur itu kali ini tidak mendatangkan kemarahan bagi Bre Prabangkara melainkan kelegaan… lega karena Mandrakanta masih bernyawa. Perlahan tubuh anak muda yang tadi terdiam kini mulai bergerak berupaya duduk… kemudian bangkit berdiri.

“Apa tadi aku bilang… ia masih hidup…” Sakanti langsung menubruk memeluk Mandrakanta yang baru saja berdiri. Segera tubuh anak muda itu terjerembab tertindih oleh tubuh gadis bermuka penuh nilak rawing (bekas luka alias bopeng).

“Tolong singkirkan gadis tutul ini dariku… hiiii…” Tidak ada satu orang pun yang bergerak membantu Mandrakanta.

Kembali peristiwa yang mengherankan disaksikan. Mengherankan, bagaimana anak muda itu tetap luput dari gempuran lima orang Barisan Awan. Keheranan itu juga merasuk ke dalam pikiran Bre Prabangkara. Belum lama ia melihat sendiri, anak muda itu terdiam tidak bergerak. Terdiam yang ia kira setidak-tidaknya mengalami luka parah, atau bahkan terbujur selamanya masuk ke dalam pelukan Batara Yama.

“Dari mana anak bajug itu menyerap kekuatan yang dapat menahan kekuatan Barisan Awan?” Bre Prabangkara membatin.

“Kakang apakah engkau mengenali siapa yang telah membentuk kekuatan Mandrakanta?” Tidak dapat menahan keingintahuannya, Bre Prabangkara bertanya kepada Senopati Ramaniya. Hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban dari pertanyaan itu.

“Kakang aku tidak percaya bila tidak melihat sendiri, anak bajug itu dapat meredam Barisan Awan. Sekalipun jarang muncul, mereka sering disebut-sebut sebagai salah satu dari lima Pelindung Perkumpulan Neraka… satu dari Yamani Sandya Arakata (Pelindung Perkumpulan Neraka)… Perkumpulan yang paling ditakuti namun tidak pernah diketahui jelas berada di mana… hanya dikabarkan berhubungan dengan sebuah pulau di selatan Yawadwipa… pulau yang dikatakan penuh dengan bunga-bungaan… Nusa Kembangan” Senopati Ramaniya hanya mengangguk. Agaknya, senopati itu pun mendengar kabar yang sama seperti diutarakan oleh Bre Prabangkara.

“Pergi… pergi…” Gadis itu bukannya pergi malah memeluk anak muda itu semakin erat, sambil menempelkan kepalanya ke dada bidangnya.

“Ayolah, tolong aku…” Anak muda itu memandang dengan tatapan meminta kepada gadis berpipi dan berbibir tebal.

“Sakanti … Bangun.. ayo bangun… sekarang giliranku.” Kata gadis pipi dan bibir tebal sambil menarik lengan gadis yang erat memeluk anak muda.

“Sudah…sudah… aku bangun sendiri.” Mandrakanta melepaskan diri saat pelukan gadis itu mengendur. Ia segera bangun, tidak rela membiarkan diri dipeluk oleh gadis buruk rupa yang lain. Anak muda itu pun berdiri. Terlihat tidak kekurangan sesuatu apa pun. Kembali melangkah mendekati lima orang Barisan Awan yang masih berdiri tegak di tempat semula.

“Weka Demit (anak setan)…” Seorang dari Barisan Awan mengumpat. Ia menumpat anak muda yang telah mereka gempur, namun berjalan santai ke arah mereka tanpa kekurangan sesuatu apa pun.

“Bersiap-siaplah… kita mainkan Kawanda Aliwawar (Badai Awan)… berangus anak muda itu dengan Badai Awan.” Seorang Barisan Awan lain menyebut nama yang aneh…Badai Awan. Tetapi mereka tidak juga segera bergerak hingga anak muda itu tiba di hadapan mereka, terpisah lima enam langkah. Tidak juga bergerak karena persiapan memasuki gelar Badai Awan.

“Paman sekalian, aku lelah… tidak ingin melanjutkan permaian ini… sampai di sini saja, lain waktu dapat kita sambung… cukup lah kali ini… paman sekalian juga telah terlihat sangat lelah… jauh lebih lelah dari diriku… aku khawatir bila kita teruskan permainan ini akan membuat tulang-tulang tua paman akan terlepas… atau nafas menjadi mengap-megap dan bisa-bisa… hup… plek… kehilangan nafas.” Anak muda itu penuh seloroh meminta Barisan Awan berhenti. Meminta berhenti lewat bahasa ngawur, hanya mendatangkan kemarahan dalam dada Barisan Awan.

“WUUSSS… WUUSSS… WUUSSS… WUUSSS… WUUSSS…”

Lima banyangan serentak bergerak dalam barisan mengelilingi anak muda.. semakin cepat dan cepat… anak muda itu berada di tengah-tengah gerakan Barisan Awan yang berputar mengeliling… saat berputar tubuh lima orang Barisan Awan hanya berupa bayang-bayang yang terlihat terus terangkat melayang di udara. Saat berputar masing-masing anggota Barisan Awan mengarahkan pukulan dan tendangan… pukulan dan tendangan yang menciptakan angin beliung… angin pusaran yang berputar mengurung anak muda dari segala penjuru… menghimpit anak muda yang dikelilingi oleh Barisan Awan dalam jarak tiga langkah.

“WUUTTT… BLAARRR… WUUTTT… BLAARRR… WUUTTT… BLAARRR”

Begitu susul menyusul terdengar. Suara desakan pusaran angin yang diikuti oleh ledakan, manakala pukulan dan tendangan pusaran angin dari Barisan Awan membentur, menghempaskan dan meledakkan bebetuan. Aneh, bebatuan itu meledak tersapu angin pusaran… hanya hempasan angin yang bersifat panas yang dapat meledakkan bebatuan. Begitulah Badai Awan yang digelar Barisan Awan… sifat panas dan berupa beliung menjadi keunikan dan keistimewaannya. Tetapi, yang lebih istimewa adalah tidak satu pun pusaran angin panas itu menghempas atau menghantam, apalagi meledakkan sasarannya… anak muda di tengah himpitan Barisan Awan yang terus berputar cepat sambil melepaskan serangan pusaran beliung panas.

Sejak Barisan Awan melepaskan gelar Badai Awan, anak muda itu sama sekali tidak bergerak. Ia berdiri pada suatu titik tepat di tengah pusaran gerakan Barisan Awan yang berkeliling…. berdiri dengan dua kaki sedikit merenggang, lalu dua tangan menyatu sejengkal di atas kepala… dengan sikap itu telah tercipta bayang-bayang lingkaran… yang mengemuka nyata berupa sebuah cakra yang berpijar ungu… semakin terang menyala…terus menebar luas meliputi sosok anak muda.

“Siva Cakra (Roda Siwa)…” Kata-kata itu melompat dari satu sosok yang berputar mengelilingi anak muda.

“Itu memang Roda Siwa… Agrapana Yatna (Tenaga Sumber atau Tenaga Hakiki) milik Siwa… Dari mana anak bajug itu menghimpun dan membangkitkan Tenaga Hakiki Siwa… tenaga untuk menghempaskan serangan badai panas Barisan Awan… Ah, syukurlah… siapa sebenarnya anak itu sama sekali tidak seperti polah kelakuannya… bajug… tak kenal aturan.” Dua mata Senopati Ramaniya terlihat berkaca-kaca, sementara ia membisikkan kata-kata itu… membisikkan dekat telinga Bre Prabangkara.

Ratusan kali suara desakan pusaran angin yang diikuti oleh ledakan telah berlangsung mewarnai jalannya laga. Tiba-tiba terjadi perubahan pada diri anak muda.Tubuhnya terangkat naik melayang di udara. Seiring dengan itu, pijaran ungu dari Roda Siwa semakin terang menyala serta menebar luas melebar… terus saja menghalau serangan pusaran angin panas.

“Sudah… kita sudahi permainan ini.” Selepas perkataan itu, tercipta pusaran ungu manakala anak muda itu bergerak memutar tubuhnya yang melayang di udara… putaran yang tidak kalah cepat dengan putaran Barisan Awan, hanya saja putaran itu berlawanan arah.

“Siva Kretya Dhamarga (Jalan Kedamaian Siwa)…” Suara dari dalam pusaran ungu menggema. Menyusul segera pusaran ungu merangsekkan dan menghimpit pusaran angin panas yang bergerak berlawanan. Bila dua pusaran berlawanan bertemu, maka terjadi gesekan yang bersifat menahan… satu sama lain… pusaran yang terkuat akan menghentikan dan selanjutnya membalikkan arah pusaran lain yang semula bergerak melawan arah. Itulah yang terjadi saat Jalan Kedamaian Siwa bertemu dengan Badai Awan. Yang kuat akan menghentikan dan memutar balik arah pusaran yang lemah.

“HOAAKK… HOAAKK… HOAAKK… HOAAKK… HOAAKK.”

Lima suara terlontar di tengah udara, di antara pusaran yang berlawanan arah telah berbenturan. Suara itu diikuti oleh lima bayangan yang terpencar mencelat. Sudah dipastikan pusaran mana yang lebih kuat di antara dua pusaran yang berbenturan. Benturan antara Jalan Kedamaian Siwa dan Badai Awan telah tampak hasilnya. Lima suara orang yang terhentak keras… terhentak sangat keras untuk mengeluarkan sesuatu yang menyumbat dada lima orang Barisan Awan. Saat pusaran angin panas tidak mampu melawan Jalan Kedamaian Siwa, saat itu juga lima Barisan Awan mengalami hantaman kuat yang telah membuat aliran darah bergolak dan telah memecahkan sebagian pembuluh darah pada paru-paru… pembuluh darah yang terhitung sangat rentan… pecahnya pembuluh darah pada paru-paru mengakibatkan dada sesak tersumbat. Untuk mengatasi rasa sesak, mereka menghentak keras mengeluarkan darah yang telah menyumbat pernafasan…. memuntahkan darah lewat hentakan yang diiringi suara keras.

Pusaran mana yang menghentikan dan yang dihentikan sudah menjadi jelas. Lima suara hentakan dan sosok-sosok yang mencelat terpencar adalah hasil yang nyata. Tetapi, mengapa dua hasil itu yang terjadi. Tidak diikuti oleh hasil lain, yakni suara terbanting tubuh ke tanah. Hasil yang terakhir ini tidak terjadi, karena lima tubuh Barisan Awan terpelanting berpencar tidak ada satu pun yang terbating ke tanah. Lima tubuh itu disambar dan didaratkan.

“Luar biasa… sangat luar biasa… suatu pertunjukan agung.” Bersamaan dengan itu tampil seorang lelaki gagah dengan dahi berhiaskan rajah seperti dimiliki oleh Barisan Awan. Tidak seperti Barisan Awan yang berperawakan kurus, lelaki itu terlihat berotot perkasa dengan wajah elok di usianya yang sudah tidak lagi terbilang muda. Kemunculan orang itu diikuti oleh delapan pria lain seusia dengan Barisan Awan. Lima di antaranya terlihat membopong Barisan Awan yang lemas terluka.

“Anak muda, Yamani Sandya (Perkumpulan Neraka) akan mencatat permainan pada malam ini. Seperti tadi katamu permaian ini sampai di sini saja, dapat disambung lain waktu… aku, Yamani Braja (Halilintar Neraka), kelak akan mewakili Perkumpulan Neraka bermain dengan dirimu… dengan senang hati aku sendiri akan menyambut dirimu jika engkau datang Nusa Kembangan… berkunjung ke Perkumpulan Neraka.” Kata lelaki gagah itu, kemudian memberi suatu isyarat kepada yang lain untuk pergi. Cepat orang-orang dari Perkumpulan Neraka menghilang. Selepas itu, terlihat Mandrakanta terus komat-kamit.

“Nusa Kembangan… Perkumpulan Neraka… Nusa Kembangan… Perkumpulan Neraka…” Berulang-ulang anak muda itu menyebut-nyebut saat mulutnya terus komat-kamit. Seperti orang linglung, Mandrakanta ngeloyor pergi tanpa mempedulikan orang-orang yang ada di sana. Tidak ada seorang pun yang menahan langkah anak muda itu. Mereka terpaku di tempat masing-masing, masih terpana pada apa yang mereka saksikan. Hanya dua gadis gila yang diajak berjalan membuntuti ke mana anak muda itu berjalan.

Sejak malam itu, apa yang terjadi di Wrahas Kartika menjadi pembicaraan… pembicaraan yang menggegerkan… terus menyebar hingga melampaui batas Niroga Praja, bahkan Poh Pitu… Geger di Wrahas Kartika, demikian kejadian malam itu tersebar luas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s